Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

Yang Terbuang Yang Terlalaikan

PLAKK !! Orang itu menamparku begitu aku mengulurkan gelas padanya,
berharap dia memberikanku sebagian kecil dari uang yang dimilikinya. Tubuhku limbung dan mendarat di atas tanah becek dengan telak. Seakan setiap tulang dalam tubuhku remuk, sudah tiada tenaga upaya untukku duduk.




Lemah menerpa aspal. Bagai tak kupunya lagi berat pada ragaku. Tak puas, laki-laki yang mengendarai sepeda motor itu kembali membuatku seakan mau mati saat dia melayangkan kakinya ke tubuhku dengan kuat. Aku terbatuk.
Aku menatapnya dengan nanar. Merasakan betapa sakitnya tulang rusukku ditendang olehnya.

Dia mengumpat sesaat sebelum akhirnya dia menyalakan kembali mesin motornya dan melaju tanpa menghiraukan tatapan ngeri dari pengendara sepeda motor lain. Kebanyakan dari mereka menatapku kasihan, tapi sebagian lagi menatapku tak acuh atau bahkan setuju dengan perlakuan laki-laki jahat tadi padaku.

Aku masih tergeletak di atas tanah becek ini dengan nafas terengah-engah. Sakit. Haus. Lapar. Aku mengerjapkan mata dengan lemas, berharap apa yang kurasakan segera hilang dari tubuhku. Aku menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya dan segera berdiri dengan tubuh letih dan ringkih. Sedangkan gelas plastik yang tergenggam di tanganku masih kosong tanpa uang sesenpun.

Bagaimana aku bisa membeli sesuap nasi hari ini apabila uang saja aku tak miliki? hanya gelas kosong ini yang selalu menemaniku menjalani hari demi hari dalam kehidupan yang penuh dengan kekejaman ini. Aku sekarang mulai menyesali kenapa dulu aku pindah ke Ibukota ini dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan layak? dimana keadilan yang selalu diumbar para pemimpin dan penguasa? tiada keadilan bagi orang miskin sepertiku. Tidak pernah ada.

Seorang pengemis lain yang kukenal, berjalan pelan ke arahku. Menatapku, tapi seperti tidak padaku, ia berjalan terseok, tapi seperti tidak ke arahku. Ia tak ingin menangkap pandanganku, ada rasa iba yang luar biasa dari sorot matanya. Tak ia hiraukan pula orang-orang yang menghindarinya karena bau tubuhnya, ia berjalan menatap lurus entah kemana.

“Tak apa?” tanyanya sembari duduk di tepi trotoar. Di sampingku. Ia menggenggam erat gelas aqua-nya yang hampir terisi penuh, menaruhnya di sela-sela kedua pahanya dan mulai mengambil satu persatu uang di dalamnya.
Aku tersenyum getir. Entah apakah senyumku terlihat seperti sebuah senyuman atau seringaian.

 Aku bersandar pada batas trotoar jalan dengan nafas tertahan. “Seperti yang kau lihat..” aku menghembuskan nafas berat setelah kurasakan punggungku menyentuh pinggiran trotoar. Ia memasukkan uang-uang dari gelas plastiknya dalam saku celana kumuhnya. “Entah harus berapa kali aku harus begini.. rupanya aku ini pelampiasan kesal orang-orang ini..” kutatap sekilas orang-orang yang berlalu lalang di depan maupun di belakang kami. Aku terbatuk lagi.

“Sudah tau begitu, ini Jakarta..” tuturnya, “..bukan Banyuwangi yang masih asri!” ia mengosongkan lagi gelas plastiknya. Berharap akan ada lagi orang-orang yang akan mengisi gelas itu kini. Tukang becak di samping kami mulai membuka mulutnya untuk menarik penumpang, terjadi tawar-menawar antara mereka dan disepakatilah sebuah harga yang menguntungkan keduanya. Atau bagi tukang becak itu ‘daripada tidak sama sekali’.

“Kau mau jadi tukang becak?” tanyanya mengikuti arus pandanganku. Aku memalingkan wajah dari tukang becak yang telah mengayuh pedalnya bersama seorang ibu dengan segala barang belanjanya. Aku memperbaiki letak dudukku yang terasa kurang nyaman karena becek. Habis sudah bajuku kini semakin terlihat kumuh dari sebelumnya, bercak tanah becek ini terlihat seperti kotoran sapi.

Aku menghembuskan nafas lagi. Berat. “Apa yang bisa kukayuh dari tubuh ringkih ini?” aku terbatuk mengatakannya. Aku tidak ingat sejak kapan tiap kali aku bernafas terdengar suara tipis melengking dari dalam dadaku. “Duduk saja rasanya sudah seperti mau mati..” ia tertawa pelan.

“Apa yang bisa kita miliki? Tidak ada.. punya tubuh saja itu sudah untung, tapi mungkin bagimu lebih baik mati daripada hidup begini..”
“Kau taulah apa yang ku mau, hidup seperti ini sudah seperti ‘hidup segan mati tak mau’, tapi apa yang bisa kupertanggungjawabkan pada Tuhanku jika aku mati nanti?” terlintas dalam benakku mengenai hal itu.

“Tuhan?” Ia lagi-lagi tertawa, kali ini lebih panjang dari yang tadi. “Sejak kapan kau punya pikiran ini? Orang miskin macam kita ini tak pantas mikirin Tuhan! Sudah sudah, bisa kabur orang yang mengasihaniku nanti jika aku terus tertawa begini!” ia menghentikan tawanya, berubah lagi mimiknya jadi murung dan kiranya pantas dikasihani. “Jika mau mati tinggal mati.. tak usah mikirin Tuhan segala macam! Tuhan saja gak pernah mikirin kita, ngapain kita mikirin Dia?”

“Tapi masih ingat aku, Ji.. dulu bapakku bacakan hal-hal tentang itu, rasanya usiaku tak akan berlanjut lagi habis ini..”

“Ya kita proteslah pada tuh Tuhan, kenapa membuat kita jadi pengemis begini? Aku heran banyak orang ke masjid atau ke gereja.. apa yang mereka lakukan di dalamnya? Berdo’a seperti akan ada yang dengar saja! Tak adalah Tuhan macam itu!”

“Dosa kau, Ji! Ngomong seperti itu!”

“Sudah, sudah! Gila rupanya kau sudah!” ia memotong ucapanku dengan ekspresi yang masih belum berubah. Rupanya serius benar dia mempraktikkan wajah melas ala pengemis. Berpengalaman benar dia.

“Aku ke sana, sudah ramai di pasar itu, kalau kau mau di sini, sinilah.. jaga jangan sampai rusak tubuhmu yang tinggal kulit itu!” ia menepuk dadaku, setelah mengatakannya ia beranjak pergi dari tepi trotoar. Melangkah terseok ke keramaian dan hilang sebelum aku mendengar lagi suara melengking yang datang dari udara yang kuhirup.

“Ini..” sebuah tangan kecil tiba-tiba terjulur ke arahku sedetik setelah aku berhasil duduk dengan susah payah di tepi trotoar untuk menghindari becek yang sudah mulai mengering di bajuku. Aku mendongak dan melihat seorang anak kecil dengan malu-malu memasukkan uang 20.000-an ke dalam gelas usangku.

 Dia tersenyum polos sambil memeluk kaki ibunya yang tersenyum melihat tingkah putrinya. Kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan entah kemana. Anak kecil manis itu sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku dengan lucu.

Aku tersenyum sedih.
“Terimakasih..”, ucapku tanpa suara. Menyedihkan memang terlihat tak berguna di depan seorang anak kecil yang belum mengetahui kejamnya dunia, tapi aku bersyukur karena aku masih bisa makan hari ini.

Ternyata, menjadi pengemis adalah hal yang menyusahkan dan hina. Meskipun begitu, sudah kujalani ini selama 1 tahun belakangan yang menyiksa. Menunggu belas kasihan orang, mendahkan tangan, dengan wajah menekuk di sana sini.
Memang akan masih ada yang mengasihi, tapi banyak pula yang mencemooh diri atau seperti orang tadi, menendangku yang hampir tanpa nyawa lagi ini.
Semangat hidup sudah tak kumiliki, mungkin nanti gadis kecil itu akan mengerti, jangan sekali-kali mencoba menjadi seperti ini, sungguh kini aku percaya bahwa bekerja sekalipun itu pengais sampah jauhlah lebih membanggakan diri ketimbang menjadi pengemis begini.
Aku sendiri merasakan, lebih baik memberi daripada meminta agar dikasihani. Jika bisa, aku ingin membuka usaha atau sejenisnya, tapi sudah tak bisa lagi. Usiaku telah dimakan rayap renta, tapi apalah yang kupunya. Seorang keluarga pun tidak tahu dimana, saling meninggalkan yang lainnya karena malu pada kondisi keluarga yang tak punya apa-apa, tanpa apa-apa.

Tiba-tiba perutku terasa sangat nyeri. Aku mendekap erat perutku sambil meringis sakit. Tak kusangka perutku akan menjadi seperih ini saat tak kuisi dengan apapun selama 2 hari. Sengaja kusisisakan sebagian uang yang kudapat berhari-hari agar aku bisa pulang ke Banyuwangi. Setidaknya aku ingin mati di sana, tempat kelahiranku sendiri. Kuraba kembali perutku yang tak mampu berkompromi lagi, nafasku sesak karena seakan seluruh organku ingin segera bebas dari ketersiksaan ini.

Kepalaku mulai terasa pusing dan berkunang-kunang. Terasa berat sangat menegakkan kepaku kembali. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Nafasku perlahan memburu dan hampir tak bisa lagi kuraup udara yang tak berbayar ini. Bahkan hal yang diberi cuma-cuma ini pun tak mampu kubeli dengan raga yang ringkih. Yang jelas seakan aku sudah tidak mampu duduk lagi.

Setiap persendianku seakan hilang terhapus sakit di perutku yang melilit. Aku menggigit bibir saat tubuhku terlena ke tanah untuk kesekian kalinya. Kepalaku ikut terbentur aspal saat tubuhku terbanting keras. Mataku berkunang-kunang dan tubuhku seperti melayang. Sedangkan sakit di perutku ini membuatku semakin merasa telah hilang entah kemana. Aku menatap pandangan aneh beberapa pejalan kaki dengan mata yang meredup pelan.

Aku mati? Apakah sudah waktuku pergi? Kenapa sakit sekali? Kuremas dengan sisa tenaga, gelas berisi uang 20 ribu yang terkurung seorang diri. Jika ini waktuku kembali, aku pinta pada Tuhanku untuk terakhir kali. Bawa amal yang kupunya, tinggalkan amal yang sempat kutinggal karena bekerja. Sebab kini aku melihat siksa diri menanti karena aku lalai diri.
Sesaat kemudian, semuanya menjadi gelap dan tak kurasakan lagi sakit pada sekujur diri.



Karya                  : Ratna Juwita
Sumber               : cerpenmu.com

Leave A Reply

Muhammad Rizki Riswandi

[name=Muhammad Rizki Riswandi] [img=https://lh4.googleusercontent.com/-G7Q7GEaN3Ww/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACj8/ut8fOyusy-A/s512-c/photo.jpg] [description=Saya adalah Seorang Anak Pramuka yang ingin berbagi ilmu serta informasi tentang dunia kepramukaan dan juga ilmu pengetahuan, semoga tulisan tulisan saya dapat bermanfaat untuk kawan kawan semua] (facebook=https://facebook.com/kakakiky.id) (twitter=https://twitter.com/kakakiky_id) (instagram=https://instagram.com/kakakiky.id)