Cerita Horror | Hutan Penuh Misteri Part II - Irma Erviana - KakaKiky | Blog Edukasi
News Update
Loading...

7/17/2016

Cerita Horror | Hutan Penuh Misteri Part II - Irma Erviana

Hutan Penuh Misteri Part 2
KakaKiky - “Mereka sebuah pohon!!” Aries menggaruk kepalanya, wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Tapi bagaimana bisa mereka mempunyai tangan dan kaki? Bahkan mata dan mulut layaknya manusia” Untuk sesaat kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Apa kau tahu tadi itu Pohon apa?” Ku gelengkan kepala “tidak tahu”
“Sudahlah itu tak penting. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Mereka akan membawa Gemini ke mana?”

“Ku rasa mereka akan membawanya ke pohon yang paling besar itu” tunjuk Aries ke pohon besar yang berada di taman tengah-tengah kota.
“Menurutku itu sebuah istana. Dan mungkin saja Leo juga berada di sana” lanjutnya.
“Tapi apakah di sana ada manusia? Bagaimana jika mereka memburu manusia?” ucapku ragu-ragu.
“Tentu saja tidak, dasar bodoh!” terdengar kekeh dari atas pohon yang berdiri di dekatku dan Aries, aku mendongak ke atas.
Seorang pemuda melompat turun sedikit melayang, dan mendarat perlahan di samping Aries.

“Mereka tidak akan memakan kalian. Mereka itu tumbuhan, bukan bintang buas” ucapnya.
“Siapa kau?” tanyaku tanpa mempedulikan ucapannya.
“Namaku Rovert” ia mambungkuk memperkenalkan dirinya.

“Aku Aries, dan Ini Virgo” Aries meperkenalkan dirinya dan diriku.
Ia tersenyum “selamat datang di negeri hijau”

“Negeri hijau?” tanyaku.
Rovert memandangku dengan heran, “rupanya kalian baru pertama kali datang ke sini ya?”

Kami berdua mengangguk. “Pantas saja kalian merasa heran. Lantas apa tujuan kalian datang ke mari?”

Aries menceritakan semuanya dari mulai Leo yang menghilang sampai Gemini yang ditangkap oleh pohon-pohon hidup itu.

Rovert mendengarkan cerita kami dengan seksama. “Mmmm… Pantas saja jika mereka marah padanya. Aku yakin mereka ditangkap dan ditahan di penjara bawah tanah istana. Tapi teman kalian yang satu lagi, apa yang telah dilakukannya sehingga ia ikut ditahan?” gumamnya.

“Entah, kami pun tak tahu. Dan kami bingung apa yang harus kami lakukan” ucapku lirih.
“Aku akan membantu kalian. Bagaimana jika kalian ikut denganku ke rumah?”

Sebelumnya aku dan Aries sempat bingung. Kami takut jika Rovert orang jahat. Tapi dilihat dari tampangnya, sepertinya ia orang baik. Pikirku. Kemudian kami pun mengiyakan ajakannya.

Sesampainya di rumah Rovert. Rumah yang cukup kecil dengan teras di depannya. Itu sebuah pondok. Tidak ada siapa pun di dalam pondok. Ternyata Rovert hidup sebatang kara. Kasihan anak seusianya harus hidup sendirian di pondok kecil ini.

Matahari sudah rendah letaknya di langit sebelah barat. Karenanya Rovert menyalakan api di perapian dengan menggunakan korek untuk menghangatkam badan dari dinginnya malam. Aku duduk dekat jendela, memandang ke luar. Di langit nampak samar kelebatan sayap kelelawar mencari mangsa.

Sedangkan Aries tampak berbincang-bincang dengan Rovert mengenai negeri ini. Menurut pengetahuan Rovert, negeri hijau berusia tiga ratusan tahun, atau bahkan lebih. Rovert yang awalnya hanya sebagai orang yang merantau sana-sini. Karena ia hanya hidup sebatang kara. Pada akhirnya menemukan negeri ini.

Awalnya Rovert merasa takut dan bingung seperti kami. Tapi setelah mengetahui detailnya tentang negeri hijau membuat Rovert betah tinggal di sini. Negeri ini aman dan tenteram tanpa ada gangguan dari para manusia yang jahat dan serakah.

Meskipun sebagian besar penghuninya tumbuhan. Ada sebagian manusia seperti dirinya yang tinggal disini. Tentu saja manusia yang cinta pada tumbuhan. Negeri ini juga dipimpin oleh seorang Ratu. Rovert terus bercerita. Dan Aries mendengarkannya.

“Cukup sudah” aku berdiri dan menghampiri Aries. “Kita tidak bisa diam terus seperti ini. Kita harus segera membebaskan Leo dan Gemini”
“Aku tahu. Tapi kita masih belum tahu apa yang harus kita lakukan”
Aries benar. Aku terduduk lunglai. Air mataku mulai mengalir. Aku takut terjadi sesuatu pada dua sahabatku itu.

Aries merangkulku “sudah, Vi. Kau tak perlu takut. Aku akan mencari ide supaya bisa membawa Leo, Gemini pulang”
“Aku akan ikut membantu” Rovert ikut menenangkanku.
Seberusaha apa pun mereka mencoba. Tetap saja hatiku merasa kacau. Malam semakin larut, suara jangkrik di mana-mana saling bersahutan.

Aku tak bisa tidur. Aku ingin pulang. Bagaimana jika ayah dan ibu khawatir mencariku. Tapi aku tak mungkin kembali tanpa kedua sahabatku. Pada akhirnya aku tak kuasa menahan kantuk dan perlahan mataku terpejam.

Esok pagi Rovert mengajak kami untuk bertemu langsung dengan sang Ratu. Untuk meminta maaf dan membebaskan Leo dan Gemini. Kami berjalan memasuki kota. Di sana banyak rumah-rumah pohon. Ku lihat salah satu rumah yang menarik perhatianku. Di sekitarnya ada seorang kakek sedang mencangkul tanah dibantu oleh sebuah pohon. Mereka tampak akur.

“Kau pasti heran kenapa mereka hidup rukun.” Rovert mulai berbicara sepanjang jalan tentang penduduk yang tinggal di negeri hijau.

Memang tidak semua tumbuhan dapat berjalan dan melihat. Ada sebagian yang hidup layaknya tumbuhan seperti biasanya. Aku terkagum-kagum melihat semua pohon-pohon yang sudah langka dan hampir punah ada semuanya di sini. Seperti pohon jelutung, tembesu, mimba, enau, cycas affinity rumphii, encepalartos, pachypodium, nepenthes spp. Dan masih banyak lagi.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di sebuah taman yang berada di tengah kota. Mataku terbelalak menatap sebuah bangunan. Ralat, maksudku sebuah pohon yang sangat besar dengan banyak pintu dan jendela. Di depannya terhampar taman yang ditumbuhi bunga-bunga biru berbentuk aneh.

Aku semakin tak percaya saat melihat makhluk-makhluk kecil bersirip tengah bernyanyi di kolam berair mancur yang dibangun di tengah taman. Suara mereka sungguh merdu, tak bisa dibandingkan dengan semua nyanyian yang pernah ku dengar. “Mereka adalah peri taman kerajaan.” Spontan aku berpaling ke arah Rovert. Saat sampai di depan istana pohon, kami di hadang oleh penjaga kerajaan.

“Ada perlu apa kalian ke mari?” ucap seorang prajurit pohon.
“Kami hendak bertemu dengan Ratu”
“Baiklah. Tapi sebelumnya biarkan kami memeriksa kalian dahulu”
“Silahkan” jawab Rovert enteng.
Para penjaga itu mulai memeriksa kami. Karena tidak ada yang mencurigakan, kami dipersilahkan masuk.
“Ayo kita masuk!” ucapnya lagi.

Di dalam kerajaan sangat rapi. Perabotan berukuran raksasa tertata rapi di tembok istana. Ku lihat sebuah pohon cendana sedang duduk di kursi berukuran besar. Di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota yang memberitahukan bahwa ia seorang ratu. Di sisi kiri kanan ada sebuah pohon lain yang sepertinya itu seorang pelayan atau apalah yang biasa ada di kerajaan. Rovert segera membungkuk sebagai salam penghormatan. Aku dan Aries mengikutinya di belakang.

“Ada apa kalian datang ke mari?” tanya Ratu pohon.
“Kami datang ke mari ingin meminta maaf kepada Ratu atas perbuatan yang telah dilakukan dua teman kami. Kami juga meminta agar Ratu mau membebaskan teman kami”

Ratu pohon itu berdiri. “Tapi teman-teman kalian sudah membunuh dan merusak anak-anakku. Mereka harus dihukum mati”
Kami terperanjat. Air mataku mulai mengalir. Aries memegang tanganku agar aku harus tenang.

“Kami mohon, Ratu. Tolong bebaskan teman-teman kami. Kami akan melakukan apa pun asal mereka dibebaskan” kini Aries yang berbicara. Ratu pohon itu terdiam untuk beberapa saat. Kemudian, “baiklah aku akan membebaskan teman kalian tapi dengan satu syarat”

Kami saling pandang. “Apa syaratnya, Ratu?” tanyaku.

“Kalian harus membawakanku bunga Lupinus Perennis sebelum matahari terbenam. Jika kalian gagal maka teman-teman kalian akan dihukum mati”
Sesaat aku dan Aries ragu. Tapi dengan gagahnya Rovert menyanggupi persyaratannya. Aku sempat tertegun.

“Di mana kami harus mencarinya?”
“Di hutan terlarang” ucap sang Ratu, singkat. Setelah itu kami pamit untuk pergi.
“Kau gila. Bagaiman bisa kita mendapatkan bunga itu dalam waktu yang sesingkat ini” ucap Aries setelah berada di luar istana.
“Aku bingung. Bagaimana mungkin di dalam hutan, ada hutan lagi” ucapku pelan.
“Kalian tak perlu khawatir. Ada aku kan”
“Yeah, ada kau” Aries tersenyum kecut.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.
“Tentu saja mencari bunga Lupinus Perennis” sambil berlalu pergi.
Aku dan Aries cepat-cepat mengejar Rovert. Ia berjalan begitu cepat. Kami pergi meninggalkan kota. Dan sudah berjalan beberapa kilometer. Aku merasa lelah. Tubuhku lemas, mungkin karena aku lapar.
“Kita istirahat sebentar. Aku lapar, apa di sekitar sini ada pohon buah?”
Rovert diam berpikir. “Mungkin aku tahu. Kalian tunggulah sebentar” ia berlalu dengan begitu cepat.

Kini hanya ada kami berdua, aku dan Aries. “Aries, apa kau yakin kita bisa menyelamatkan Leo dan Gemini?” aku menunduk lesu. Aries menghampiri dan berjongkok di depanku. Mata kami bertatapan begitu dekat. Lalu ia menggenggam kedua tanganku.

“Kita pasti bisa. Kau tak perlu takut. Aku akan selalu menjagamu, Virgo. Yakin dan percayalah bahwa kita pasti bisa” Ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat indah dan dapat meluluhkan hati siapa saja yang memandangnya. Senyum Aries membuatku sedikit tenang dan tidak lagi merasa takut. Ketika itu juga datang Rovert yang sudah membawa buah-buahan. “Oopss… Maaf aku tak bermaksud mengganggu kalian” ucapnya polos.

Aries segera melepaskan tangannya dari tanganku. Ku lihat wajah Aries yang memerah karena malu. Begitu pun diriku. Kami merasa canggung. Tapi tetap berusaha untuk terlihat normal.

Kami mulai memakan buah-buahan yang dibawa Rovert. Rasanya sungguh nikmat. Kami mendengus dengan perut terisi. Saatnya melanjutkan perjalanan. Selama di perjalanan aku berharap kami tidak menemukan kesulitan dalam mencari bunga Lupinus Perennis.
Awalnya tak sulit bagi kami untuk menuju tempat di mana bunga Lupinus Perennis berada.

Yang menbuat kami kesulitan: bunga itu dijaga oleh dua pohon yang tingginya hampir 25 m, kulit rata, warna abu-abu kehitaman, dan tekstur yang kasar. Mata hitam melotot. Benar-benar menyeramkan.

“Kita harus bagaimana?” tanyaku pelan.
Sesaat kami terdiam, lalu…
“Aku punya ide!” kata Rovert.

Matanya mencari-cari sesuatu di sekeliling kami. Dan mengambil sebuah batu. Lalu melemparkannya.

“Siapa itu?” tanya si pohon penjaga. Suaranya melengking di udara. Mereka berdua pergi ke arah di mana batu yang di lempar Rovert. Rovert tak membuang kesempatan itu, ia mengendap-endap dan langsung mengambil bunga Lupinus Perennis. Lalu dengan cepat berlari ke arah kami.

“Cepat lari!”
Kami ketahuan. Dua pohon raksasa itu langsung mengejar kami. Kami berlari dengan cepat, tergesa-gesa. Langit tampak mendung dan gelap di atas kepala. Suhu udara begitu sejuk dan dingin, dan aku menggigil keras ketika angin kencang menerpa tubuhku yang tak terlindungi mantel.

Dua pohon raksasa itu terus berlari mengejar kami. Langkah kaki yang begitu besar. Sekilas ku lirik wajah mereka. Begitu menyeramkan. Kami bersembunyi di bawah batang pohon besar yang sudah tumbang dan menunduk dalam-dalam. Mereka mengejar semakin dekat. Tampaknya salah satu melirikku. Rahangku bergetar.

“Sstttt…” Aries menggenggam tanganku, berusaha membuatku tetap tenang.
Sekarang mereka tepat di samping kami. Aku tidak bisa bernapas sama sekali. Ku lirik wajah Aries dan Rovert, mereka terlihat tenang meskipun sebenarnya mereka merasa tegang sepertiku. Namun ketika akhirnya dua pohon raksasa itu berjalan melewatiku, tekanan itu hilang. Ku hembuskan napas yang sudah setengah membeku dalam paru-paruku. “Sebaiknya cepat kita pergi sebelum mereka mengejar lagi.” ucap Rovert.

Titik hujan pertama menimpa tepat di bahuku. Rasanya menusuk dan dingin sekali. Kami berlari semakin cepat, menerobos semak belukar dan ranting-ranting pohon yang menghalangi pandangan. Tapi tak kami hiraukan, karena kini di genggaman tanganku ada bunga Lupinus erennis yang kami cari. Kami harus segera sampai ke istana sebelum matahari terbenam, sebelum Leo dan Gemini dihukum mati.

Aku bergidik membayangkannya. Untunglah kami belum terlambat. Ku lihat Leo sedang memberontak saat dipaksa untuk naik ke panggung hukuman. Sedangkan Gemini, matanya bengkak karena keseringan menangis. Entah sudah berapa liter air mata yang telah ia kuras.

“Tunggu!” cegah Rovert. Para penghuni istana mengalihkan pandangannya ke arah kami.

“Kami datang membawa bunga yang diinginkan Ratu. Jadi kami mohon bebaskan teman-teman kami.” pintaku melirik ke arah Ratu. Kemudian Gemini dan Leo. Ada seberkas harapan di wajah mereka.

Ratu pohon perlahan berjalan menghampiri kami. Tatapan matanya tajam. Ia tersenyum, “kalian memang anak pemberani”
“Dan kau, Virgo” ia menunjukku “kau memang anak yang baik”
Aku tertegun, mulutku menganga. Dari mana ia tahu namaku? Selama ini aku belum pernah mengucapkan namaku.

“Kau pasti heran kenapa aku tahu namamu” rupanya Ratu bisa membaca pikiranku.
“Aku adalah pohon yang selalu kau sapa tiap pagi dan sore. Mungkin kau tidak menyadarinya” ucapnya lagi.
Aku tak bisa bicara. Mulutku membungkam. Aries maju selangkah, membungkuk tanda penghormatan. “Ini bunganya, Ratu”
Ratu pohon mengambilnya, dan memanggil salah satu pelayan. Lalu menyerahkan bunga itu. Setelah itu ia menepuk tangannya sebagai isyarat bahwa Leo dan Gemini dibebaskan.
“Lepaskan mereka!”
Kami tersenyum puas. Gemini langsung memelukku.
“Terima kasih, Ratu” aku menyeka air mata haru yang ke luar dari ekor mataku.
“Kalian harus berjanji tidak akan merusak tumbuhan lagi. Meskipun tumbuhan bukan manusia, tetapi mereka juga makhluk hidup. Dan kalian sebagai manusia harus merawatnya bukan malah merusaknya.” Kami semua mengangguk paham.

“Mulai sekarang kami berjanji akan menjaga alam” Leo meletakkan tangannya di dada sebagai sumpah.
Ratu tersenyum, “sekarang kalian bisa kembali pulang. Dan ingat jangan beritahu siapa pun tentang negeri hijau”
Sebelum aku berbalik, aku memeluk Ratu. “Terima kasih”
Ia tersenyum padaku. Setelah itu kami pamit pulang. Tapi kami belum bisa pulang ke rumah. Karena hari sudah mulai petang. Hujan pun semakin deras. Akan sulit bagi kami untuk mencari jalan pulang. Kami memutuskan untuk menginap di pondok Rovert.

Malam itu bulan memancarkan sinarnya di langit. Bulan purnama. Meskipun mendung, tapi awan tak menghalangi bulan yang tengah bersinar itu. Ada yang berbeda, kali ini sinarnya memancarkan kebahagiaan bagi kami. Tentu saja atas bebasnya kedua sahabat kami dari hukuman mati. Aku tersenyum menatap langit. Aries menghampiriku dan menyodorkan segelas cokelat panas untuk menghangatkan badan. Malam itu kami lalui dengan canda tawa.
Matahari sudah memperlihatkan sinarnya di ujung timur. Hutan masih diselimuti embun pagi. Udara masih sangat segar. Ingin rasanya tidur lagi. Tapi aku harus bangun, agar kami semua cepat-cepat pulang.

Rovert mengantarkan kami sampai depan hutan. Jalanan masih sepi.
“Apa kau yakin tidak ikut bersama kami? Kau bisa tinggal bersamaku” Aries meyakinkan Rovert agar ikut bersama kami.
“Tidak. Hutan ini adalah rumahku. Aku bahagia tinggal di sini” Rovert menolaknya dengan lembut.

“Ya sudahlah” ada nada kecewa dalam suara Aries.
“Apakah kami masih dapat bermain ke negeri hijau?” tanyaku.
Rovert mengangguk, “tentu saja, asal kalian dapat merahasiakannya.”
“Serahkan saja pada kami. Kami pandai menjaga rahasia.” kata Gemini.
Kami pun bergegas pulang. Rovert kembali masuk ke dalam hutan. Sedih rasanya harus meninggalkan hutan.

Tetapi aku harus pulang. Mungkin ayah dan ibu sudah sangat khawatir. Ku hentikan langkahku, dan berbalik memandang Hutan Misteri. Tersenyum. Sekarang kami sudah mengetahui misteri apa yang berada di dalam Hutan Misteri.

~TAMAT~

Cerpen yang berjudul "Hutan Penuh Misteri" ini merupakan sebuah karangan dari seorang penulis bernama Irma Erviana.

Loading...

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
KakaKiky.id Adalah sebuah blog yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya pendidikan kepramukaan. KakaKiky update postingan setiap harinya, bagi kamu yang tidak ingin ketinggalan informasi update terbaru, jangan lupa untuk subscribe menggunakan email kamu. Salam Pramuka and Be Prepared!
Done