Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

Pict By weheartit.com | Redesign By M. Rizki Riswandi


Hidup adalah masa berkarya. Dimana kita diberi setiap batasan waktu yang kemudian kita sebut umur,

dalam batasan waktu itulah kita melihat berbagai macam warna tinta kehidupan. Hitam putih hidup ini menjadi tantangan tersendiri bagi sang pemilik jiwa. Dengan tekad itulah aku lahir didunia ini.


    Zaya Lestari itulah nama pemberian dari mendiang ibuku. Tepatnya pada 4 mei 1995 beberapa menit setelah kelahiranku,  ibuku meninggal dunia. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat kepada bapakku.

suamiku,
maafkan aku yang tidak bisa menemanimu hingga akhir hayatmu.
Lewat surat ini Kutitipkan salam rinduku pada mu, saat engkau membaca surat ini
aku telah pergi untuk selamanya. Yakinlah wahai suamiku, aku telah bahagia disisiNya.
Wahai suamiku
Dengan surat ini aku memintamu untuk menitipkan putri kita pada temanku Rummi di jakarta
Aku sangat mengerti keadaanmu yang sudah tidak sanggup lagi merawat seorang bayi seorang diri. Oleh karena itu, berikanlah hak asuh Zaya pada rummi. Kau hanya harus mengantarnya padanya karna sebelumnya aku telah membicarakan hal ini padanya.
Suamiku tercinta
Aku telah menyiapkan nama bagi anak kita, ZAYA LESTARI itulah nama yang telah kupersiapkan untuk putri kita. Semoga engkau memenuhi wasiatku ini.
            Salam sayang
            Mendiang Istrimu


Sepeninggal ibuku, bapakku hidup sebatang kara di Aceh, walaupun kutahu masyarakat disekitarku tidak akan membiarkan tetangga mereka larut dalam kesedihan. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Aceh untuk saling berbagi dan tolong menolong dalam hal apapun, aku juga tidak terlalu khawatir karna ada beberapa kerabat bapakku yang juga tinggal bersebelahan dengan rumahku, aku bersyukur Allah masih memberinya kesehatan dan fisik yang kuat untuk terus bekerja demi membayar semua hutangnya pada seorang saudagar kaya di kampungku, pak Mail namanya. Bagaimana mungkin aku lupa dengan perangai buruk pak Mail yang sombong dan suka menindas rakyat kecil. Ia juga terkenal dengan saudagar yang memiliki 6 orang  istri padahal dalam islam seorang laki laki tidak boleh menikah lebih dari 4 orang wanita walaupun ia mampu.

Surat itulah yang membuatku berada disini. Aku tinggal bersama ibu angkatku yang akrab kusapa ummi, beliau seorang janda dengan seorang putra yang kini sedang menuntut ilmu dinegeri para nabi tepatnya di universitas tertua di dunia, Al Azhar Cairo, Mesir. Beliau adalah seorang pensiunan dosen disebuah universitas dijakarta, walaupun beliau hanyalah seorang ibu angkat tetapi beliau menyayangiku layaknya anak kandung sendiri dan itu bisa kurasakan, rasa iba dan kasih sayang yang beliau berikan padaku cukup membuatku nyaman tinggal bersama mereka.

Sebagai seorang anak angkat aku cukup tahu diri untuk membahagiakannya, ia sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. Aku adalah seorang mahasiswa psikologi di salah satu universitas dijakarta dan seminggu lagi adalah hari wisudaku setelah sekian lama aku berjuang untuk menyandang gelar sarjana, aku ingin dihari wisudaku nanti aku bisa membuat ummi bahagia dengan prestasiku, berkat jasa beliau aku bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang mahasiswa padahal ku tahu untuk seorang janda pensiun seperti beliau sangatlah sulit untuk menyekolahkan dua anak dengan pendidikan yang lumayan besar, walaupun anak laki lakinya, kak Hifzil disekolahkan oleh negara karena kemampuannya menghafal Al Quran hingga 30 juz . yah.. tak dapat dipungkiri bahwa kak Hifzil adalah seorang laki laki yang tampan dan baik hati selain itu ia juga pandai dalam berargumentasi sehingga negara mau membiayai sekolahnya keluar negeri. Sungguh beruntung jika kelak ada wanita yang terpikat olehnya karena sejak dulu aku sangat mengenalnya bahwa ia tidak suka menjalani hubungan dengan wanita, katanya “ kakak mau tunggu halal dulu”, begitulah kesehariannya yang suka bercanda tetapi tetap sopan.
Hari ini adalah hari selasa, seperti biasa setelah solat subuh aku langsung bersiap siap dan membantu ummi di dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa.

“zaya, ada jadwal kuliah hari ini nak?? “ tanya ummi tiba tiba
“ insyaallah hari ini zaya ingin mendaftar wisuda ummi, tapi cuman sampek jam 11 aja ummi, memangnya ada apa ummi ?? “ tanyaku penasaran
“ tidak sayang, ummi ingin mengajak kamu ke bandara untuk menjemput kakakmu sayang”

 “ kak Hifzil ummi? “ tanyaku dengan nada sumringah
“ iya sayang, nak Hifzil akan pulang hari ini, ia sudah menyelesaikan kuliahnya dan akan bekerja disalah satu kantor hukum dijakarta “ jawab ummi dengan nada bersyukur.

Bagaimana tidak, setelah 5 tahun lalu kami melihatnya berangkat dengan tas dipundaknya demi menuntut ilmu disebuah universitas hukum di mesir kini tiba saatnya kami melihatnya kembali, dan itu sangat membuat kami bahagia.

“ baiklah ummi, zaya akan pulang cepat hari ini. Setelah itu kita akan menjemput kak Hifzil ya ummi”setelah bersalaman dengan ummi aku pamit berangkat kuliah.
            Aku bahagia dengan kepulangan kak Hifzil, ia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Sejak kecil ia selalu melindungiku dan sudah menganggapku seperti adiknya sendiri, aku sangat ingat bagaimana ia membelaku ketika teman teman mengejekku dengan sebutan “anak pungut”         , yah saat itu aku duduk dikelas 1 SMP dan ia sudah kelas 3 SMP, memang usia kami hanya terpaut 2 tahun.

            Sepulangku dari kampus ummi langsung mengajakku ke bandara untuk menjemput kak Hifzil dengan menggunakan taxi dan kami pun tiba di bandara. Setelah tiba dibandara kami langung mencari kak Hifzil dengan penerbangan cairo-jakarta. Tiba tiba seorang laki laki muda yang gagah dan tampan berdiri dengan tersenyum pada kami tak lain itulah kak Hifzil. Aku tak menyangka ia yang kulihat 5 tahun lalu dengan penampilan kurus kini berubah menjadi seorang laki laki dengan tubuh kekar dan gagah juga tampan. Itulah kakak ku, ia yang selalu melindungiku kini telah kembali dan aku selalu berdoa agar suatu saat nanti ia mendapatkan wanita yang cantik dan sholehah untuk menjadi ibu dari anak anaknya.

            Tak lama setelah itu kami pun langsung bergega meninggalkan bandara dan langung menuju kerumah kami tercinta, setiba dirumah kami disibukkan dengan permintaan kak Hifzil untuk dibuatkan Timphan, yaitu kue khas aceh yang sangat disukainya. Ia ingin kali ini aku yang membuatkan timphan untuknya walaupun ia tahu aku tidak sepandai ummi  dalam membuat timphan
“ zaya... hari ini kakak mau kamu yang membuat timphan” dengan nada mengejek karna ia tahu walaupun timphan adalah kue khas daerah asalku tapi aku tidak mampu membuatnya tanpa bantuan ummi.

“ iya iyaa.. zaya buatin deh buat kakak Hifzil terganteng sedunia” dengan nada bercanda
“ wahh zaya.. masi suka ngejek kakak ya.. oke baiklah timphan kali ini ga boleh ada bantuan ummi, gimana?? Dill” dengan nada sombong layaknya pemenang
“ ihh ummi.. liat tuh kak Hifzil. Oke baiklah. Pokoknya timphan buatan zaya nanti kakak habisin tanpa sisa oke “ tanpa menghiraukan kak Hifzil aku pun menuju dapur untuk membuat timphan.

            Dengan sediki pesimis aku membuat timphan, aku takut kalau timphan buatanku tidak seenak timphan buatan ummi. Setelah selesai aku pun langsung menyajikan timphan buatanku diatas meja makan. Kulihat ummi dan kak Hifzil keluar dari kamar dengan peci diatas kepala kak Hifzil dan dapat kupastikan bahwa mereka telah mengerjakan solat zuhur, aku pun pamit untuk melaksanakan solat zuhur dan langsung menuju kamarku. Setelah selesai kami makan siang bersama.

“ oh 5 tahun ditinggal zaya udah pande bikin timphan rupanya” dengan nada menggodaku
“ iya dong.. zaya kan anak perempuan ummi jadi harus pande kayak ummi dong “ sahut ummi dengan nada bercanda
“ kak Hifzil gak cemburukan ummi belain zaya?? “ dengan nada menggoda
“ ya enggaklah kan zaya adik bungsu kakak yang selalu ngajak bertengkar lalu menangis kalau diejek” tertawa  
“ ituukan dulu, sekarang zaya kan udah gede. Gak menangis lagi dong kak. Bentar lagi zaya kan jadi ssikolog, masa ikutan nangis sama pasien “
“ oh jadi zaya kira kakak pasien zaya gitu?” (merasa jengkel)
“ hahaha ya bisa jadi”(dengan nada bercanda)

            Begitulah keseharian kami diisi dengan canda dan tawa, aku bersyukur Allah telah menitipkanku pada keluarga yang sangat baik hati dan menjunjung tinggi nilai nilai islam.

Tidak terasa hari wisudaku tinggal 3 hari lagi dan hari ini ummi menyuruhku untuk menjemput bapakku di bandara. Beliau sengaja datang untuk menyaksikan hari bahagiaku.

“ nak zaya, bukankah hari ini bapak akan tiba dijakarta? “ ucap ummi padaku
“ iya ummi, beliau akan tiba nanti sore pukul 03.00 WIB” jawabku sambil menyiapkan makanan
“ memangnya jam berapa jadwal pesawatnya akan berangkat ? “ tanya ummi
“ zaya juga tidak tau ummi, tapi kata bapak, zaya harus jemput bapak jam 03.00 nanti ummi “
“ baiklah kalau begitu “

            Tiba tiba pembicaraan kami terputus dengan kedatangan kak Hifzil yang membawa bungkusan besar

“ zaya.. liat ni kakak bawa apa? “ panggil kak Hifzil
“ oh jadi cuman zaya aja yang dipanggil, ummi enggak nih “ canda ummi
“ ya enggak dong ummi.. zaya kan yang paling bawel kalau melihat hadiah. Beda dengan ummi yang bersikap anggun didepan hadiah “
“ ihh enak saja. Zaya udah bukan anak kecil lagi kali kak”
“ oh iya kakak lupa. Zaya kan udah mau jadi ibuk psikolog”
“ hahha.. iya nak zaya. Bentar lagi zaya wisuda dan tidak lama lagi zaya akan menikah. Ummi sangat berharap jika suatu hari nanti zaya menikah ummi ingin zaya tetap tinggal bersama ummi, ummi ingin zaya yang akan merawat ummi ketika ummi sudah tua nanti “ ungkap ummi dengan nada serius
“ ummi jangan bicara begitu, siapa yang mau menikahi putri ummi yang bawel ini “ canda kak Hifzil
“ wah.. jadi kakak mengejekku ? baiklah jika suatu hari nanti aku menikah, akan kupastikan kakak adalah orang pertama yang akan ku undang” sahutku cemberut
“ sudah sudah. Kalian ini selalu saja bertengkar. Ayo Hifzil tunjukan apa yang kau bawa itu
“ baiklah. Ini untuk zaya dan ini untuk ummi “

            Setelah kubuka bungkusan yang diberikan kak Hifzil dan ternyata bungkusan itu berisi kain sari dari india. “ ini kakak Hifzil beli di india 2 minggu yang lalu” ucapnya

“ terima kasih kak ini indah sekali “ ucapku dengan nada bahagia
“ tapi dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli semua ini nak ?, tentu ini semua sangat mahal “ tanya ummi penasaran
“ tidak ummi, Hifzil mendapat pekerjaan di cairo. Keseharian Hifzil tidak hanya kuliah ummi, Hifzil juga mengajar disalah satu taman pendidikan kanak kanak islam dicairo dan mendapatkan gaji yang lumayan besar sehingga sebagian Hifzil sisihkan sebagai tabungan.”
“ alhamdullillah kalau begitu , oh iya zaya bukan kah kamu harus menjemput bapak sekarang “
“ masyaallah zaya hampir lupa ummi, baiklah zaya pamit berangkat ummi “ ucapku berpamitan

            Setelah berpamitan aku langsung menuju bandara untuk menjemput bapak yang datang dari aceh. Sesampaiku disana aku langsung menemui bapak. Kulihat ia bersama seorang wanita setengah baya dan kutahu bahwa ia adalah ibu tiriku, sepeninggalku kejakarta bapakku menikah dengan seorang janda dengan seorang anak laki laki, ia bermaksud agar ada yang menjaganya diusianya yang sudah terbilang tua. Dan aku sangat mengenal wanita itu, ia adalah bibi sumi yang juga tetanggaku bagaimana mungkin aku melupakannya ia yang telah menguruku dan membantu ibuku sejak dulu. Aku beryukur bapak menikah dengan wanita sebaik bi sumi . dan akupun langung menghampiri mereka

“ assalamualaikum bapak” panggilku
“ waalaikumsalam nak zaya “

            Tanpa berpikir lagi aku langsung memeluk bapakku, bagaimana mungkin setelah sekian lama aku berpisah dengan beliau tentu aku sangat merindukan beliau, kami hanya berinteraksi melepas rindu melalui telepon genggam dan aku hanya bisa mendengan suaranya tanpa melihat rupanya. Begitulah hari ini kebahagiaanku memuncak saat bapakku datang demi menyaksikan hari bahagiaku menyandang gelar sarjana.


            Setelah itu kami langsung menghentikan sebuah taxi guna mengantarkan kami kerumah ummi di dalam taxi bibi sumi banyak bercerita tentang keadaan kampung kami, tetapi bapak hanya terdiam tanpa bicara sedikitpun , aku curiga sepertinya bapak sedang memendam sebuah masalah. Kemudian tiba tiba...


-BERSAMBUNG-

Cerpen Karangan : Zikrunal Ulya


Leave A Reply
  1. jaman sma dulu saya hoby baca cerpen jadi keinget jaman dulu makasih infonya gan

    BalasHapus
  2. Di tunggu kisah selanjutnya gan. Btw gw lagi suka baca-baca novel. Heheh

    BalasHapus
  3. Ditunggu kelanjutannya gan, tag saya dah difb kalo update. Fbdotcom/harisidofficialblog

    BalasHapus
  4. nunggu lanjutannya sob ceritanya bagus

    BalasHapus
  5. bagus tuh ceritanya. cepet posting sob lanjutannya

    BalasHapus

Muhammad Rizki Riswandi

[name=Muhammad Rizki Riswandi] [img=https://lh4.googleusercontent.com/-G7Q7GEaN3Ww/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACj8/ut8fOyusy-A/s512-c/photo.jpg] [description=Saya adalah Seorang Anak Pramuka yang ingin berbagi ilmu serta informasi tentang dunia kepramukaan dan juga ilmu pengetahuan, semoga tulisan tulisan saya dapat bermanfaat untuk kawan kawan semua] (facebook=https://facebook.com/kakakiky.id) (twitter=https://twitter.com/kakakiky_id) (instagram=https://instagram.com/kakakiky.id)