Cerpen Horror | Time Ghost - Islaa Ed - KakaKiky | Blog Edukasi
News Update
Loading...

2/18/2017

Cerpen Horror | Time Ghost - Islaa Ed

Time Ghost - Islaa Ed
Kakakiky - Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman seangkatan berhasil berperang di atas selembar kertas putih dengan bersenjatakan sebatang pensil runcing.

Ujian Nasional telah kami lewati. Semua berjalan lancar. Rencana kami, tak-tik para guru, dan kecerdikan pengawas membuat kami yakin akan lulus seratus persen dengan nilai yang amat-sangat-sangat baik.
Untuk merayakan hal itu, kami sepakat mengadakan kemah bersama di halaman belakang sekolah selama 2 hari 2 malam. Dimulai sejak malam ini, malam minggu yang cerah.

Aku menyiapkan peralatan berkemahku. Beberapa potong baju, makanan ringan, perlengkapan mandi, dan segala serba-serbinya. Urusan tenda, para guru sudah bersedia menyiapkan. Ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan sebelum kami berpisah dengan seragam SMP dan menggantinya dengan seragam putih abu-abu.

Pukul 19.30 aku berangkat bersama dua orang sahabat karibku. Hilmi dan Helmi, mereka berdua kembar. Namanya saja sudah mirip, apalagi orangnya. Mungkin mereka berdua hanya berbeda sedikit dari segi watak. Hilmi si kakak yang pendiam dan cenderung pasif. Sementara Helmi sangat aktif dan macho. Hahaha… Sebenarnya dia `sok macho` saja.

“Anak-anak, ada sedikit kendala dalam acara kita malam ini” Kata Pak Joko, pemandu utama acara kemah SMP 1 Selompang. “Tenda yang disiapkan panitia ternyata tidak memenuhi target yang kita butuhkan.”
Spontan kami semua yang berkumpul merasa kecewa dengan menggerutu panjang-pendek tidak jelas. Beberapa anak bahkan sampai mengepalkan tangannya meninju ke arah angin yang diam. Cara pelampiasan emosi yang paling aman memang.
“Ssstt! Harap tenang anak-anak!” Seru Pak Joko dengan suara yang sengaja dikeraskan. Suara gerutuan itu perlahan-lahan mereda. Suasana kembali tenang.
“Kalian tidak usah khawatir, acara kemah ini tetap bisa dilaksanakan di dalam gedung sekolah” Pak Joko menjelaskan. “Kita bisa memanfaatkan ruang kelas untuk tidur dan ruang aula untuk acara-acara kita.”
Mendengar hal itu, beberapa anak tampak setuju. Sementara beberapa lainnya terlihat kecewa dan enggan.
Kalian tahu, sekolahku ini terkenal angker dan banyak ‘penghuninya’. Sudah banyak siswa yang mengaku pernah melihat sosok-sosok hantu bergentayangan di area sekolah. Mendengar suara-suara aneh, dan hal-hal diluar nalar lainnya.
Namun akhirnya, acara “kemah indoor” ini benar-benar terlaksana. Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Pak Joko juga pandai mempengaruhi murid-muridnya agar tidak perlu takut. Lagipula kita kan bersama. Begitu kata Pak Joko.

Anak laki-laki kebagian tempat di ruang kelas IX A dan B. Sementara anak perempuan di ruang kelas VIII A, B dan C. Para guru menempati kantor. Memang tidak semua murid bisa hadir. Tapi jumlah yang hadir sudah cukup untuk mewakili semuanya.

Sebelum tidur, kami berkumpul di aula sekolah. Acara pembuka, makan malam bersama. Saling bertukar snack dan bernyanyi bersama. Teman-teman memintaku memainkan gitar. Tentu aku tidak menolak, karena aku memang menyukainya. Mereka bernyanyi meramaikan suara gitarku. Bahkan Pak Joko yang terkenal suka bertingkah lucu itu mengajak seorang murid perempuan berdansa dan menari bersama. Teman-teman yang lain menjadi iri. Kulihat, satu persatu dari mereka mulai berdiri, menghampiri pujaan hatinya, lalu mengajaknya menari. Suasana aula menjadi ramai dan hangat. Seru sekali. Meski aku hanya berperan memainkan gitar, tapi aku turut merasa senang dan gembira.

Setelah beberapa lama, hampir semua anak mendapatkan pasangan menari. Mungkin hanya tinggal aku yang duduk dan bermain gitar. Tak apalah…
“Hai, boleh kutemani?”
Aku menoleh. Tika sudah duduk di sebelahku. Senyumnya mengembang.
“Ya, tentu saja” Jawabku tak keberatan.

Tika dan aku diam-diaman saja. Tak banyak yang bisa kami bahas. Aku dan Tika tidak terlalu akrab selama ini. Tika yang pendiam dan bintang kelas. Dengan diriku yang bukan apa-apa dan banyak bicara. Mungkin tidak akan ada kecocokan di antara kami.

“Kamu pandai sekali bermain gitar.”
Pujian Tika itu, jelas-jelas membuat petikan gitarku terhenti. Beberapa anak menoleh heran ke arahku. Kemudian tersenyum maklum dan kembali berjoget menari tak karuan. Rupanya panitia telah menyiapkan sound system untuk memutar lagu-lagu malam ini.
“Enggak juga” Jawabku merendah. Kemudian kuulang kembali petikan tanganku di atas gitar. Mengalunkan nada sendu.
“Sejak kapan suka main gitar?” Tanya Tika. Wajahnya tampak antusias.
“Sudah sejak dulu, waktu SD aku sudah bermain gitar.”
“Hebat! Apa ayahmu juga pandai memainkannya?”
“Ya. Kakakku juga pemain gitar” jawabku bangga.
“Waw! Mau berbagi cerita tentang pengalamanmu dengan gitar-gitar itu?”
Aku mendengar nada ingin tahu yang tulus dari suara gadis itu. Dan aku pun menceritakan banyak hal kepadanya. Berawal dari bagaimana aku belajar gitar, sampai ke berbagai topik lain. Fakta tentang Tika ‘si pendiam’ mulai terungkap di hadapanku.

Setelah bercerita banyak, menurutku ternyata Tika bukanlah anak yang pendiam dan pasif. Dia hanya tidak suka akrab dengan banyak orang. Ia tipe yang pilih-pilih teman. Bukan karena sombong, tapi demi kebaikan pergaulannya sendiri. Kurasa orangtua Tika telah mendidiknya dengan baik. Dan aku senang karena termasuk ke dalam cowok yang dipilih untuk menjadi temannya.

Acara pembukaan malam ini baru selesai sekitar tengah malam. Kami segera kembali ke kelas yang telah ditentukan untuk beristirahat. Aku tidur berjejer bersama Hilmi dan Helmi, seperti biasa.
Sebelum terlelap, Helmi sempat bercerita padaku tentang hantu di gedung sekolah ini yang benci sekali pada detik jam. Menurut Helmi, itulah sebabnya sekolah kami tidak memiliki jam dinding. Hanya ada satu jam besar yang diletakkan di atas tugu di halaman sekolah. Jam itulah yang selama ini menjadi panduan kami, jam itulah yang selalu mendentangkan bel.
“Tapi buktinya, teman-teman kita banyak yang ke sekolah menggunakan jam tangan. Mereka tidak apa-apa” elakku masih tak percaya.
“Yang benar saja. Kita kan sekolah di siang hari. Mana ada hantu siang-siang bolong?” ralat Helmi. Lagi-lagi ucapannya kuanggap suatu kebenaran yang logis.
“Kamu bawa jam tangan?” tanya Helmi. Suaranya sengaja dibuat besar dan menakutkan.
“Ya, tentu saja” jawabku.
Helmi mengernyitkan kening. “Lebih baik jangan dipakai, bisa bahaya. Jam tanganku sudah kuletakkan di bawah pohon di luar gedung”
Aku tertawa mendengar penuturan Helmi. Dia benar-benar percaya cerita hantu itu. Dasar! Konyol sekali pemikirannya.
“Sudahlah. Aku kan cuma mengingatkan” gerutu Helmi melihat tawaku yang terlalu lepas dan kentara mengejeknya.
“Oke-oke. Biar kuletakkan dalam tas saja” ucapku mengalah setelah puas tertawa. Aku tidak ingin melukai perasaan sahabat baikku itu. Dengan segera, kuletakkan jam tangan hitamku ke dalam tas ransel yang aku bawa.
“Bagaimana? Sudah aman sekarang?” tanyaku dengan tersenyum geli.
“Semoga saja!” Helmi menjawab ketus.
“Hahaha…” aku kembali tertawa melihat reaksinya. Bahkan Hilmi sang kakak juga terlihat sangat ingin mentertawai kekonyolan adiknya. Tapi aku tahu Hilmi menahan tawa di mulutnya. Dia hanya tersenyum-senyum melihat kami.
“Kalau begitu aku akan mengingatkan teman-teman yang lainnya juga” kata Helmi sembari beranjak pergi. Aku hanya tertegun diam. Niat sekali dia. Cerita horor itu sudah mempengaruhi akal sehatnya.

Beberapa saat kemudian, suasana mulai benar-benar sepi. Helmi belum datang dari kegiatan baikknya mengabari perihal hantu yang benci detik jam itu. Aku belum mengantuk, sementara Hilmi di sebelahku sudah terlelap. Aku memutuskan menggunakan cara lama untuk tidur. Kubayangkan ada sebuah lapangan hijau luas dipenuhi domba-domba putih bersih. Aku menjadi penggembala dengan pakaian koboi yang keren. Lalu aku mulai menghitung domba kepunyaanku satu persatu. Baru pada hitungan ke-30, kudengar sesuatu bergerak di dalam tas ranselku yang tergeletak di samping bantal. Tapi aku sudah tidak terlalu peduli. Aku benar-benar mengantuk sekarang. Dombaku… Kuingat hanya ada 38 ekor…

Keesokan paginya, semua gelisah. Rasa takut dan penasaran berbaur menjadi satu. Semua jam tangan yang kami bawa tiba-tiba saja menghilang. Termasuk jam tangan hitamku. Terjadi saling tuduh di antara kami. Kecurigaan hampir tertumpah seluruhnya kepada Helmi. Hanya dia yang percaya kisah tentang hantu jam tangan itu. Mereka mengira Helmi dendam karena tak ada yang mempercayainya. Jadi dia mencuri semua jam tangan yang ada untuk menakut-nakuti mereka.
“Aku enggak mencuri jam tangan kalian! Sumpah!” tegas Helmi untuk yang kesekian kalinya. Tapi tatapan sinis teman-teman tetap tidak berubah.
Helmi bebalik ke arahku yang berdiri di belakangnya. “Kamu percaya padaku, kan?” tanyanya.
Aku hanya meringis ragu. Ingin sekali kujawab ‘ya’, tapi nyatanya aku juga curiga kepada Helmi. Jika kujawab ‘tidak’, aku takut akan melukai hati sahabatku itu.
“Sudahlah!” Helmi akhirnya kehabisan kesabaran. “Yang jelas aku benar-benar nggak mencuri jam tangan kalian. Terserah apa kata kalian!” Helmi terlihat sangat marah. Dia berjalan pergi meninggalkan aku dan teman-teman yang mengelilinginya. Kasihan sekali.
“Tunggu Helmi!” panggil seseorang.
Helmi menoleh, “ada apa lagi?”
“Kamu harus mengembalikan jam tangan kami!” seru anak perempuan bernama Susi, dia yang memanggil Helmi tadi.
“Bagaimana bisa?! Bukan aku yang mengambil!”
“Mana ada maling ngaku?!!”
Helmi terdiam. Rahangnya mengeras dikatai maling seperti itu. Mukanya merah padam menahan marah.
“Aku bukan maling!” teriaknya. “Bukan aku yang mencuri! Kenapa kalian enggak percaya padaku?!!”
“Pokoknya aku mau jam tanganku kembali. Itu jam pemberian papa dari Inggris!” Susi ngotot, tangannya mengepal kesal.
“Jangan minta padaku!” jerit Helmi.
“Kamu kan malingnya!”
“Ya! Kamu harus tanggung jawab!” sahut salah seorang anak laki-laki.
“Kembalikan jam tangan kami!” tambah anak lainnya.
“Kalau enggak, kami akan mengeroyokmu dan membawamu ke penjara!” seru seorang murid bertubuh tinggi dan gemuk.
Helmi diam membeku. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sedih dan marah. Tangannya mengepal kuat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hilmi bahkan hanya bisa diam menunduk malu dan kasihan. Kami berdua sama-sama takut menjadi sasaran kemarahan teman-teman selanjutnya karena kami punya hubungan baik dengan ‘tersangka’.
“Kami beri waktu sampai besok pagi! Kamu bisa mengembalikan jam tangan kami nanti malam” kata Andrea, sang ketua kelas yang terkenal bijak itu.
Helmi tampaknya tak mampu berkata-kata lagi. mungkin hatinya kini terasa amat sangat perih. Helmi hanya mampu menggeleng lemah. Matanya menyipit karena air mata terus mengalir dari sudut mata itu. Suasana menjadi hening. Antara kami dengan Helmi, mungkin kini terjadi semacam perang batin.
“Terserah apa kata kalian. Tapi aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah” Helmi berkata pelan. Suaranya bergetar dan parau. Setelah berkata seperti itu, Helmi beranjak pergi entah kemana. Teman-teman menatap kepergian Helmi penuh kebencian.
Aku menatap punggungnya yang berlalu dengan penuh perasaan bersalah dan kasihan. Disaat seperti ini, aku justru tidak berani membela sahabat baikku sendiri…

Pak Joko menanyakan tentang apa yang telah terjadi. Beberapa anak menjadi juru bicara. Mereka blak-blakan menceritakan kecurigaan mereka pada Helmi. Mereka menjelek-jelekkan Helmi, seolah Helmi benar-benar mencuri semua jam tangan yang ada. Pak Joko mengangguk-angguk paham akan kecurigaan mereka yang beralasan. Memang aneh, karena jam tangan para guru tidak ada yang hilang.

Sorenya, selesai kami melakukan pendakian di bukit belakang sekolah, aku kebetulan lewat dan melihat Helmi ke luar dari gudang. Dia membawa sebuah buku tebal dan sebilah kapak. Aku berusaha pura-pura tidak melihatnya, tapi Helmi justru menghampiriku.
“Aku akan buktikan” katanya lirih dan terdengar menusuk.
Kulihat wajah Helmi lusuh dan pucat. Bibirnya kering, matanya sembab dan merah. Penampilannya berantakan, rambutnya acak-acakan sekali.
“Sudahlah. Jangan dengarkan perkataan teman-teman” saranku.
Tapi Helmi justru menatapku seolah penuh kebencian. Aku melangkah mundur, waspada. Tiba-tiba feelingku mengatakan Helmi sudah tidak waras dan hendak melukaiku. Helmi melangkah mendekat, dan sekali lagi aku melangkah mundur.
“Sudahlah Helmi! Lebih baik sekarang kamu pulang dan menenangkan dirimu. Masalah teman-teman, biar aku minta bantuan Pak Joko untuk membereskannya.” Aku berkata tegas. Takut-takut Helmi kehilangan kendali dan menyerangku dengan kapak di tangannya itu.
“Aku tidak akan lari dari masalah” jawabnya tenang dan penuh keyakinan. Helmi menatapku dalam. Kemudian melanjutkan ucapannya. “Karena aku bukan pengecut yang meninggalkan sahabatnya dalam masalah sendirian”
Aku tersentak. Dadaku terasa panas dan sesak oleh rasa bersalah. Perkataan Helmi itu sangatlah benar. Aku sahabatnya… Tapi kenapa aku justru pergi dan lari dari tanggung jawab sebagai seorang sahabat. Aku justru meninggalkan Helmi disaat dia benar-benar membutuhkan pertolongan dari seseorang yang disebut dengan sahabat. Aku jahat. Aku kejam. Aku pengecut. Memalukan sekali diriku ini…
“Maaf, Helmi…” ucapku lirih. Sangat-sangat lirih hingga aku sendiri tidak yakin telah mengucapkan sepatah kata.
Helmi hanya diam, kemudian berbalik meninggalkanku yang dipenuhi rasa bersalah. Kutatap punggung Helmi. Dia berjalan pelan ke arah gedung sekolah. Entah apa yang akan Helmi lakukan dengan kedua benda yang diambilnya dari dalam gudang itu.

Ketika matahari tenggelam dan langit menjadi gelap, beberapa dari kami baru saja selesai mandi. Gedung sekolah hanya memiliki 8 kamar mandi. Empat untuk murid laki-laki dan sisanya untuk perempuan. Alhasil saat ke kamar mandi kami harus mengantre seperti di pondok-pondok yang sering kulihat di televisi.

Selesai makan malam, seperti biasa kami berkumpul di aula. Mengobrol dan bernyanyi bersama. Bedanya, hari ini tidak ada Helmi di antara kami. Entah kemana dia, tapi ranselnya masih ada di dalam kelas tempat istirahat. Tempat dimana aku, Hilmi dan Helmi melepas lelah.

“Hai…” sapa seseorang. Tika. Lagi-lagi dia menghampiriku. Kali ini wajah cerianya tampak agak murung.
“Boleh aku duduk?” tanya Tika. Aku menjadi salah tingkah karena dari tadi hanya diam menatapnya.
“Oh! Boleh-boleh” aku menggeser dudukku, memberi ruang untuk Tika duduk.
“Gimana keadaan Helmi?” tanya Tika tanpa basa-basi.
Darahku berdesir. Kenapa Tika harus bertanya tentang Helmi? Aku selalu merasa bersalah saat ada teman yang menanyakan perihal Helmi kepadaku.
“Tidak tahu. Terakhir aku melihatnya… Kacau” jawabku asal.
Tika menyipitkan sebelah matanya. “Kenapa tadi kamu enggak membela Helmi sama sekali?”
DHEG!!…
Aku hanya bisa diam.
“Kudengar kamu sahabatnya kan?” tuding Tika.
“Kalau aku jadi kamu” Tika melanjutkan. “Bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap membela sahabatku”
“Bukan begit-”
“Pengecut” potong Tika. “Aku kira kamu anak yang baik dan bisa diandalkan. Ternyata perkiraanku meleset jauh sekali”
Kutatap mata Tika yang nyalang memandangku. Nanar sekali rasanya. Apa aku sehina itu di hadapan Tika? Apa iya, aku ini pengecut… Apa aku salah…
“Kasihan Helmi. Ternyata sahabat yang dibanggakannya selama ini hanya seorang pengecut yang jahat” kata Tika.
Kali ini aku sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahku lagi. Air mataku menetes satu-satu. Aku tersadar telah menyakiti Helmi. Aku sadar, dan aku menyesal…
“Air mata tidak berguna sekarang. Tunjukkan dengan perbuatan”. Setelah mengatakan itu, Tika bangkit dan pergi meninggalkanku.
Segera kuhapus air mata yang membasahi pipiku. Aku mengambil handphone dan melihat jam. Sudah hampir jam sebelas malam.

“Ini malam terakhir dan malam puncak. Kita akan berpesta bersama untuk keberhasilan kita!”
Pak Joko muncul secara tiba-tiba dengan pengeras suara dan seperangkat sound system yang serba lengkap. Wajahnya berseri-seri membawa suasana hangat dan menyenangkan. Teman-temanku menyambut dengan bersorak gembira. Mereka menghambur ke arah Pak Joko dan memeluknya senang. Lalu Pak Joko memutar lagu hitz yang sedang populer belakangan ini. Mereka mulai meloncat-loncat dan bernyanyi gembira.
Aku tersenyum, turut merasakan kegembiraan yang tengah mereka rasakan saat ini. Ingin sekali aku ikut menari dan bernyanyi. Tapi aku punya urusan yang jauh lebih penting. Aku harus mencari Helmi dan meminta maaf. Setelah itu aku akan berjanji untuk tidak mengkhianatinya dan menjadi pengecut lagi.

Saat kakiku mulai melangkah ke luar ruang aula, seseorang menarik tangan dan menghentikan langkahku.
“Mau kemana?” ternyata Pak Joko. Dia tersenyum dan memandang agak tak suka.
“Aku harus mencari Helmi” jawabku.
“Sudahlah…” Pak Joko memegang kedua bahuku. “Ini bukan waktunya bersedih. Kita semua ada di sini untuk bersenang-senang. Biarkan Helmi memilih jalannya, dia bukan urusanmu”
“Tapi dia sahabatku!” elakku tegas.
Pak Joko tersenyum lagi. “Saya tahu. Kamu boleh mencarinya setelah acara puncak malam kita selesai. Ini akan menjadi kenangan, jangan disia-siakan”.
Aku terdiam. Benar juga apa kata Pak Joko. Sebentar lagi kami akan berpisah, tidak akan bisa bersenang-senang bersama lagi, ini saat-saat terakhir. Helmi… Aku masih bisa meminta maaf besok pagi mungkin…
“Ayo!” Pak Joko mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Kami berdua berjalan ke tengah kerumunan teman-teman yang lain. Alunan lagu yang diputar membuat tubuhku secara sadar ikut menari dan menyanyi seperti yang lain. Senang sekali rasanya, pikiran menjadi ‘plong’. Seluruh masalah terasa berterbangan di udara seperti kapas yang tertiup angin kencang. Apa kepuasan seperti ini yang didapatkan para orang dewasa di diskotik? Atau kupikir, mungkin lebih menyenangkan.

Diam-diam, mataku berkeliling mencari sosok Tika di antara banyak anak. Tak ada. Aku mencari lagi, tetap tidak kutemukan. Aku berhenti berjoget dan berkeliling aula sambil bertanya sana-sini, mungkin ada yang melihat dimana Tika berada. Namun nihil, tak ada satu pun dari mereka yang melihat Tika.
Sampai akhirnya, kejadian yang benar-benar tak kuharapkan terjadi. Tika tiba-tiba membuka pintu aula lebar-lebar. Wajahnya muram. Semua anak berhenti bernyanyi dan memperhatikan Tika.
“Darimana saja kamu Tika? Ada apa??” Pak Joko berusaha bertanya. Tika diam, lalu menatapku.
“Anggit! Ada kabar buruk” kata Tika. Sekarang semua mata tertuju padaku.
“A-apa?” aku merasa ini bukan kabar buruk sembarangan, melihat ekspresi ketakutan Tika dan nada suaranya. Jantungku berdegup sangat kencang.
“Helmi!” lanjut Tika. Namun dia tidak melanjutkan perkataannya dan menggandeng tanganku ke luar aula.
Aku menurut saja. Tak ada kekuatan dalam diriku untuk menolak ajakan Tika. Pak Joko dan beberapa murid lainnya berjalan mengikuti kami. Mereka terdengar saling berbisik, entah membicarakan apa. Tapi aku merasa pembicaraan mereka masih ada sangkut pautnya dengan diriku, Helmi, atau bahkan Tika.
Tika membawaku ke ruang kelas XA, tempat istirahatku. Aku melihat sebuah buku tebal berwarna hijau kecokelatan yang tampak seperti buku kuno tergeletak di samping ransel milik Helmi.
“Bacalah!” perintah Tika.
Aku duduk dan membuka halaman pertama buku itu. Hanya sekilas, lalu tanganku mencerna sebuah halaman yang mungkin baru saja dibaca seseorang, karena mudah sekali saat aku membuka halaman itu.

Darahku terasa memanas. Bulu kudukku berdiri. Tengkukku merinding dingin. Dalam lembar buku itu tertulis bahwa sekolah ini dulunya bukanlah sekolah manusia, melainkan asrama para setan. Dan memang benar apa kata Helmi, setan-setan itu tidak suka ada suara detik jam. Jika sampai ada suara detik jam maka mereka akan ke luar dan berusaha menghilangkan bunyi detik itu dari dalam gedung ini. Namun dikisahkan bahwa para setan tidak mampu merusak segala bentuk jam. Sebagai gantinya, mereka akan menyembunyikan jam-jam itu di tempat tertutup agar tak ada yang bisa mendengar suara detik.
Jadi benar yang mengambil jam-jam kami bukan Helmi, tapi para setan itu. Dadaku memanas menahan buncahan amarah pada diriku sendiri yang tidak mau mempercayainya sejak awal.
“Kalian harus baca buku ini!” seruku mantap sembari menyerahkan buku kuno itu kepada teman-teman. Dengan antusias, mereka berebut membaca seperti semut-semut yang berebut gula.
“Kamu juga harus membaca ini” kata Tika.
Aku menoleh padanya. Selembar kertas, seperti surat. Mungkin dari Helmi. Dengan perasaan yang masih tak karuan aku membuka perlahan surat itu.

“Ada yang melihat Helmi?!” tanyaku dengan volume suara yang sengaja kuperkuat. Berharap ada yang menjawab ‘ya’, ‘Helmi baik-baik saja’. Tapi nyatanya, semua temanku menggeleng tak tahu.
Aku merogoh saku celanaku, mengambil handphone. Pukul 00.37, ini sudah lebih tengah malam! Mendadak dadaku kembali terasa panas dan sesak.
“Kita harus mencari Helmi! Sekarang!” seruku lantang.
“Apa yang dia katakan di surat itu?” tanya pak Joko.
Tanpa banyak bicara kuserahkan surat dari Helmi. Pak Joko spontan dikerumuni anak-anak yang lain. Mereka berebut membaca surat Helmi.
Selesai membaca, tampak mimik muka beberapa anak berubah penuh rasa bersalah. Wajah mereka yang sejak tadi pagi penuh kebencian, perlahan melembut.
“Sepertinya bapak tahu dimana tempat tersembunyi yang dimaksud Helmi” Pak Joko memecah keheningan. Aku segera menaruh harapan besar. Dengan sigap, Pak Joko berjalan ke luar ruang kelas IXA diikuti aku, Tika, lalu teman-teman yang lainnya. Suasana menjadi panas. Kami segerombolan manusia, berdesak-desakan, berusaha berjalan tepat di belakang Pak Joko. Kami berjalan cepat, Pak Joko membawa kami ke halaman belakang sekolah.
“Itu tempat yang misterius dan tersembunyi yang bapak tahu” kata Pak Joko sambil menunjuk ke arah rumah gubuk kecil di sebelah pohon mangga.
Aku mengernyit heran. Memang benar misterius, tapi… Apa disana ya…
“Ambil kunci inggris di gudang!” perintahnya.
Beberapa anak saling menyuruh. Lalu 3 anak laki-laki berlari menuju gudang. Tak berapa lama, mereka kembali dengan benda yang diminta Pak Joko.

Pak guru kami itu kembali beraksi. Dia berusaha mencongkel pintu. Satu kali, dua kali, tiga kali, gagal. Congkelan ke-empat, pintu berhasil terbuka. Pak Joko membukanya kasar.

~ KOSONG ~

Sial! Bukan ini tempatnya. Tak ada apapun disini. Mungkin ruang ini hanya semacam gudang yang terlupakan dan tidak terpakai lagi. Di dasar lantai, ada beberapa genangan air. Pak Joko menyenteri sudut-sudut ruangan. Banyak sarang laba-laba dan barang-barang disini tampak amat sangat kotor.
“Bagaimana ini??” Tika panik. Ada sebersit rasa cemburu menyelinap dalam dadaku, entah mengapa. Padahal aku tahu bahwa selama ini Tika dan Helmi memang cukup akrab. Akh! Bukan saatnya berfikir konyol. Ini saat genting, aku harus menyelamatkan Helmi.

Tiba-tiba ingatanku terlempar pada masa dimana aku dan Helmi masih menjadi murid kelas satu. Saat itu aku menganggap Helmi agak aneh karena dia suka bercerita tentang hantu-hantu di sekolah ini. Helmi tahu banyak, katanya kakek Helmi dulunya adalah penjaga sekolah. Sehingga dia sering mendengar cerita hantu di sekolah ini dari kakeknya.
Aku teringat ucapan Helmi tentang sebuah ruang misterius di sekolah ini.
“Ada sebuah ruangan yang belum pernah kakek masuki. Ruang itu memang ditutup, digembok, dan dirantai sejak dulu. Tak ada yang berani membuka. Bahkan kakek yang terkenal pemberani itu juga nggak berani, loh!”

“Kamar mandi guru!” kataku spontan.
Pak Joko menatapku heran. Matanya menyipit, tampak berpikir.
“Aku ingat kata Helmi ada sebuah kamar mandi guru yang digembok dan dirantai besi karena tak ada yang boleh membukanya”
Pak Joko mengangguk. “Tapi kamar mandi itu memang sangat dilarang untuk dibuka”
“Demi Helmi!” seruku tidak sabar.
“Tapi_”
“Ini demi sebuah nyawa manusia, Pak! Kita harus kesana!” tambah Tika.
“Kalau Helmi sudah kesana, berarti tempat itu sudah terbuka” kataku. Pak Joko, Tika, dan yang lain mengangguk setuju.
“Cerdas!” Pak Joko mengacak rambut di kepalaku pelan. Lalu dia barlari kembali ke gedung sekolah. Aku dan yang lainnya mengekor di belakang beliau.

Ruang guru kami memiliki ruang khusus yang luas, hampir seperti aula. Jarang sekali ada murid yang masuk ke ruang guru. Ini saja baru kali ke-tiga aku masuk ruang guru, selama masa sekolahku yang sudah 3 tahun lamanya.
“Kesini!” komando Pak Joko. Kami berbelok kekanan, menuju sebuah lorong berlampu remang-remang. Di kanan-kiri lorong ada banyak pintu bertuliskan ‘TOILET’. Pak Joko terus berjalan menuju ujung lorong. Benar saja, disana ada sebuah pintu bercat putih yang terlihat tua dan pudar warnanya. Pegangan pintu itu terantai dengan gembok besar. Sama sekali belum terbuka dan tidak ada tanda-tanda seseorang pernah mencoba membukanya.
“Helmi belum kesini, dia tidak kesini” kata Pak Joko melihat semuanya masih rapi.
“Kita cari ke tempat lain” pak Joko berbalik. Tapi naluriku mengatakan Helmi ada di dalam sana.
“Tunggu, Pak!” cegahku. “Setan, hantu, dedemit, atau apalah namanya. Bukannya mereka memiliki kekuatan ghaib? Bisa saja, setelah Helmi masuk mereka menggembok pintu ini seperti semula”
Pak Joko berpikir sebentar, kemudian mengangguk. “Ya, benar juga” katanya. Guru kami itu menatap sekitar seratus orang muridnya yang menunggu tak sabar. Yang rela berdesakan demi mencari orang yang telah mereka fitnah dengan begitu kejamnya, Helmi.
“Siapa yang mau mengambil kapak di sebelah ruang kepala sekolah?” tanya Pak Joko.
Hening. Tak ada satu pun yang tampak berminat. Gudang di sebelah ruang kepala sekolah memang terkenal angker. Apalagi ini sudah lewat tengah malam.
“Biar aku saja!” aku memutuskan. Tak ada waktu untuk takut dan jadi pengecut lagi.
“Kamu sendiri?”
“Aku mau menemani” sahut Tika. Aku menoleh dan tersenyum. Tika menepuk bahuku. “Kita bersama”
Aku mengangguk. “Ayo!”

Aku dan Tika menembus gerombolan teman-teman yang menatap kami. Dengan langkah cepat kami ke luar dari ruang guru. menuju gedung depan, tempat ruang kepala sekolah berada. Sekolah terlihat sangat gelap. Beberapa kali aku dan Tika tidak sengaja menabrak pot-pot dan guci bunga yang berjejer menghias ruang demi ruang. Kami tak peduli, tekad kami sudah bulat.
“Gelap, aku enggak bisa melihat dimana kapaknya!” kataku bingung sambil meraba-raba ruang kecil yang dimaksud Pak Joko.
“Kita cari bersama” usul Tika.
Aku terus meraba-raba dalam kegelapan. Tika juga melakukan hal yang sama. Ada banyak perkakas di tempat ini. Buku-buku tebal, dan alat-alat lainnya. Tanganku juga merasakan adanya kotoran dan debu. Sendok, piring, sepatu berdebu, kursi, almari besi, dan akhirnya…
“Aghkk!” teriakku spontan, perih. Mungkin aku terlalu kasar mencari. Sebuah benda tajam melukai pergelangan tangan kananku.
“Anggit! Kenapa kamu??” suara Tika terdengar panik.
“Aku menemukan kapaknya”
“Oke, bagus! Ayo ke luar” Tika berlari ke arah pintu yang sedikit lebih terang daripada ruang pengap ini.
Aku membawa kapak dengan tangan kiri. Berat juga, kapak ini besar. Aku melirik tangan kananku yang mengucurkan darah dalam kegelapan. Benar-benar perih rasanya, tapi aku harus bertahan. Tika tidak tahu keadaan tanganku yang sebenarnya.
Kami kembali meraba-raba, berharap bisa melangkah lebih cepat tapi keterbatasan cahaya menghalangi langkah kami. Aku tahu, mungkin besok pagi saat semua kembali terang akan ada banyak darah berceceran di lantai dan menempel mengotori tembok.

Setelah berjalan beberapa lama dalam kegelapan akhirnya kami sampai ke ruang guru yang terang. Tanpa di komando aku dan Tika kompak berlari cepat. Begitu melihat kami, teman-teman membuka jalan. Kudengar, anak-anak perempuan menjerit histeris melihat darah menetes dari tangan kananku.
“Ini kapaknya!” aku menyerahkan kapak kepada Pak Joko dengan tangan kiri. Pak Joko terlihat heran juga. Dia memiringkan badan dan kepalanya berusaha melihat tangan kananku yang kusembunyikan di belakang punggung. Aku menatap Pak Joko dan berjalan mundur selangkah sembari berkata “tak ada apa-apa”.
Pak Joko diam, dia sepertinya percaya karena setelah itu Pak Joko meraih kapaknya dan dengan sigap mengayunkan kapak itu ke arah gembok yang membelenggu pintu toilet.
PRAAKK…! Gembok terbuka, terjatuh di lantai.
PRAKK! Suara rantai yang terkena kapak. PRAKK! PRAAKK! Rantai besi yang besar itu jatuh berantakan di lantai.
Pak Joko melempar kapak ke pojok tembok lalu memutar gagang pintu cepat. Spontan, aku berjalan mendekat berusaha melihat ke dalam. Pak Joko segera menyenteri ruang toilet yang sudah lama tidak dibuka itu.
“ASTAGA! Helmi…!”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Beberapa anak perempuan yang melihat ke dalam toilet menjerit histeris. Mereka secara reflek menutup mata dan wajah mereka dengan telapak tangan dan berjalan mundur tak sanggup melihat.
Aku hanya bisa diam membeku, rasanya kepalaku berputar. Aku berpegangan pada lengan Pak Joko. Tak kupedulikan lagi darah yang terus mengalir mengotori baju guruku itu. Kulihat, Tika sudah menangis di balik punggung Pak Joko.

Semuanya sudah terungkap. Semua jam tangan ada di sini. Ada puluhan atau bahkan mungkin ratusan! Semuanya menumpuk, berserakan. Ada yang menggantung di langit-langit tolilet, menempel di dinding, tergeletak di lantai, memenuhi bak mandi dan WC. Bermacam-macam dan penuh warna. Jam dinding, jam tangan, jam weker, jam lonceng, banyak sekali. Dan semua jam itu berdetik bersamaan. Paduan suaranya memekakkan telinga. Terdengar begitu kompak namun berisik.
Di antara semua jam yang berserakan, di antara detik-detik jam yang bagaikan irama kematian itu, sesosok manusia yang amat sangat kukenali tergantung di atap. Entah bagaimana, kepala Helmi bisa terlilit jam tangan dengan karet gelang yang panjang. Jam itu menempel di langit-langit seperti ada lem yang merekatkannya begitu kuat. Helmi tergantung tak berdaya disana. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Matanya melotot sampai bola mata itu kupikir akan bisa menggelinding jatuh. Terpancar ketakutan yang amat sangat dari sorot mata itu. Tangannya terkulai lemah dengan jari-jari yang mengejang seperti seseorang yang terkena stroke. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tapi darah segar masih terus keluar dari sudut mulut Helmi. Yang paling menakutkan, tubuh Helmi tidak diam layaknya mayat. Tubuhnya terus bergerak, ke-kanan dan ke-kiri. Mengikuti suara detik demi detik jam di sekeklilingnya. Ya… Tubuh Helmi bergerak mengikuti suara detik. Seperti lonceng jam besar di gereja, benar-benar bergerak sendiri. Padahal kami sangat yakin bahwa Helmi sudah kehilangan nyawanya, dia sudah tidak ada.

Aku tak sanggup lagi, kepalaku benar-benar pusing sekarang. Pemandangan mengerikan itu membuat mentalku jatuh. Aku merasa amat sangat bersalah. Aku menoleh melihat Pak Joko, ingin sekali kusandarkan tubuhku ke dada Pak Joko yang tampaknya masih saja tertegun melihat semua kenyataan ini.
“Pak… Rasanya aku ingin pingsan…” lirihku. Pak Joko tidak menggubris. Aku mengalihkan pandangan pada tangan kananku yang berdarah. Aku belum sempat memperhatikannya sama sekali sejak tadi.
DEEGH!!
Kali ini aku sudah tidak sanggup lagi berdiri, kekuatanku lenyap sudah. Kulihat tangan kananku hampir putus. Tulangku terlihat jelas, putih. Darahku banyak mengotori baju Pak Joko, di lantai juga banyak sekali darah. Aku tidak menyadari hal ini sejak tadi. Akhirnya aku jatuh terduduk, mataku berkunang-kunang.
“Seharusnya saya tidak terlibat semua ini” terdengar suara Pak Joko.
Dengan sisa kekuatan yang ada. Aku mendongak. Pak Joko masih berdiri sambil menatapku jijik. Oh Tuhan… Beginikah rasanya dibenci dan dikhianati. Sakit sekali melihat Pak Joko dan Tika, mereka memandangku dengan tatapan ngeri dan jijik. Tidak ada tanda-tanda mereka akan bergerak menolongku.

Setelah melihat mereka, aku ambruk. Kepalaku rasanya jatuh tepat pada genangan darahku sendiri. Aku sempat melihat ke arah Helmi yang terus bergerak mengikuti nada dari detik-detik jam. Maafkan aku Helmi, mungkin ini memang balasan yang tepat untukku. Pengkhianat… Aku pengkhianat yang pantas dikhianati. Maafkan aku Helmi… Maaf…
Perlahan-lahan semuanya berubah gelap. Kepalaku pening. Ah… Aku bisa melihat, ada cahaya terang. Disana ada Helmi. Seseorang berjubah hitam memaku lehernya ke tengah jam besar. Helmi dijadikannya sebagai jarum jam penunjuk detik jam besar itu. Bergerak dan terus bergerak. Suara detik itu… Aku benci suara detik…! BENCI!!


“Bencilah detik jam yang menyiksa itu… Jadilah bagian dari kami, setan-setan pengkhianat yang memusnahkan semua benda penghasil suara ‘tik-tik-tik’”.
Cerpen Karangan : Islaa Ed Facebook Pengarang : Islaa Edogawa
Loading...

Share with your friends

1 komentar

Notification
KakaKiky.id Adalah sebuah blog yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya pendidikan kepramukaan. KakaKiky update postingan setiap harinya, bagi kamu yang tidak ingin ketinggalan informasi update terbaru, jangan lupa untuk subscribe menggunakan email kamu. Salam Pramuka and Be Prepared!
Done