Asal Usul Chinese Hotpot: Dari Dinasti Han Sampai Populer di Indonesia

Asal usul Chinese hotpot
Asal usul Kuliner Chinese hotpot

KakaKiky - Setiap kali kamu duduk di meja hotpot sambil menunggu kuah mendidih, sebenarnya kamu sedang ikut merasakan tradisi yang usianya sudah lebih dari dua ribu tahun. Saya sering penasaran, kok bisa ya konsep makan bareng-bareng dengan panci mendidih di tengah meja ini bertahan begitu lama dan akhirnya sampai ke Indonesia? Nah, di postingan ini saya akan bahas tuntas perjalanan panjang chinese hotpot, mulai dari asal-usulnya di masa Dinasti Han sampai kenapa sekarang jadi menu wajib nongkrong keluarga Indonesia.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Sejarah Chinese Hotpot Sejak Dinasti Han

Jejak paling awal chinese hotpot diperkirakan muncul pada masa Dinasti Han, sekitar 206 SM hingga 220 M. Waktu itu masyarakat di wilayah utara Tiongkok yang cuacanya dingin menyiasati kebutuhan makan hangat dengan merebus daging langsung dalam panci berisi air mendidih di atas meja.

Konsep ini sebenarnya sangat sederhana secara teknis, tapi cerdas secara sosial. Alih-alih memasak semua bahan di dapur lalu menyajikannya sudah matang, orang-orang zaman itu memilih memasak bersama-sama sambil ngobrol. Panci logam ditaruh di atas bara api kecil, lalu setiap orang bisa memasukkan potongan daging atau sayur sesuai selera masing-masing. Cara makan seperti ini otomatis membuat momen makan jadi lebih lama dan penuh interaksi, sesuatu yang ternyata masih relevan sampai sekarang, terutama untuk keluarga Indonesia yang suka berlama-lama di meja makan.

Kenapa Harus di Wilayah Utara Tiongkok?

Wilayah utara Tiongkok punya musim dingin yang jauh lebih ekstrem dibanding selatan. Suhu yang bisa turun drastis membuat masyarakat butuh makanan yang bisa langsung menghangatkan tubuh dari dalam. Kuah panas yang terus mendidih di meja jadi solusi praktis, sekaligus efisien karena satu panci bisa dipakai bergantian oleh banyak orang tanpa perlu memasak ulang.

Legenda Prajurit Mongol dan Asal Usul Nama Hotpot

Selain versi Dinasti Han, ada juga cerita rakyat yang mengaitkan hotpot dengan pasukan Mongol yang menginvasi Tiongkok lebih dari seribu tahun lalu. Konon, karena harus bergerak cepat, para prajurit tidak sempat membawa banyak perlengkapan masak. Saat kondisi mendesak, mereka memakai helm baja untuk merebus air dan memasak daging seadanya di atas api unggun.

Cerita ini memang lebih terdengar seperti legenda dibanding fakta sejarah yang bisa diverifikasi penuh, tapi menariknya cerita semacam ini justru menjelaskan kenapa hotpot punya kesan praktis dan "darurat" di awal kemunculannya. Nama huoguo sendiri, yang secara harfiah berarti "panci api" dalam bahasa Mandarin, dipercaya diambil dari bunyi gemericik air mendidih saat bahan makanan dimasukkan ke dalamnya.

Dari Makanan Darurat Jadi Budaya Makan Bersama

Terlepas dari versi mana yang lebih akurat, satu hal yang jelas: hotpot lahir dari kebutuhan praktis, bukan dari resep istana yang rumit. Justru karena kesederhanaan ini, hotpot mudah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, dari rakyat biasa di pedesaan sampai akhirnya diadopsi kalangan bangsawan beberapa abad kemudian.

Perkembangan Hotpot di Dinasti Tang, Song, dan Ming

Memasuki Dinasti Tang dan Song, hotpot mulai bertransformasi dari sekadar makanan penghangat tubuh menjadi hidangan sosial yang lebih terstruktur. Variasi kaldu mulai bermunculan, tidak lagi hanya air biasa, tapi mulai dicampur rempah-rempah dan bahan aromatik lain.

Titik balik besar terjadi pada masa Dinasti Ming, ketika cabai pertama kali diperkenalkan ke Tiongkok melalui jalur perdagangan. Sebelum era ini, rasa pedas pada makanan Tiongkok umumnya berasal dari lada Sichuan atau jahe, bukan cabai. Begitu cabai masuk dan mulai dibudidayakan di wilayah Sichuan, rasa hotpot pun ikut berubah drastis, melahirkan cikal bakal hotpot pedas yang kita kenal sekarang.

Lahirnya Hotpot Pedas Khas Sichuan dan Chongqing

Wilayah Sichuan dan Chongqing punya iklim lembap yang menurut kepercayaan tradisional Tiongkok cocok "dilawan" dengan makanan pedas dan berminyak. Dari sinilah lahir hotpot dengan kuah merah menyala berisi cabai kering, biji lada Sichuan, dan minyak yang melimpah. Gaya hotpot ini kemudian jadi salah satu variasi paling ikonik dan paling banyak ditiru di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Hotpot Jadi Hidangan Istana di Masa Dinasti Qing

Kalau kamu pikir hotpot hanya makanan rakyat jelata, kenyataannya di masa Dinasti Qing hotpot justru naik kelas sampai masuk ke meja makan istana. Kaisar Qianlong, salah satu kaisar paling terkenal dari Dinasti Qing, dikenal sangat menggemari hotpot dan sering menjadikannya sajian dalam perjamuan kerajaan.

Bahkan menurut catatan sejarah kuliner Tiongkok, salah satu perjamuan besar di era Qianlong pernah menyajikan hotpot dalam skala sangat besar untuk ribuan tamu sekaligus, sebagai bentuk perayaan dan penghormatan kepada rakyat serta pejabat kerajaan. Ini jadi bukti kuat bahwa hotpot bukan cuma soal isi perut, tapi juga simbol kemewahan dan kebersamaan di level tertinggi masyarakat Tiongkok kala itu.

Referensi: haidilao-indonesia.id

Filosofi "Bahan Makanan Adalah Obat" dalam Hotpot Tiongkok

Salah satu hal menarik yang jarang dibahas adalah filosofi di balik pemilihan bahan hotpot. Dalam budaya kuliner Tiongkok, ada prinsip bahwa setiap bahan makanan punya khasiat tersendiri bagi tubuh, mirip seperti obat herbal. Karena itu, kuah dasar hotpot tradisional sering dicampur dengan bahan seperti jahe, goji berry, atau rempah herbal lain yang dipercaya menyeimbangkan energi dalam tubuh, bukan sekadar penambah rasa.

Perjalanan Hotpot Masuk ke Indonesia

Hotpot sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Komunitas Tionghoa-Indonesia sudah lama mengenal konsep makan bersama dengan kuah panas ini, terutama di kota-kota dengan populasi Tionghoa besar seperti Medan, Pontianak, Singkawang, dan Jakarta. Namun, popularitasnya meledak secara nasional baru terjadi dalam satu dekade terakhir, seiring masuknya jaringan resto hotpot internasional.

Salah satu pendorong terbesar adalah masuknya merek Haidilao ke Indonesia, yang dikenal bukan cuma karena rasa kuahnya, tapi juga karena pelayanannya yang di luar ekspektasi orang Indonesia pada umumnya, mulai dari pertunjukan tarik mi sampai hiasan kuku gratis sambil menunggu antrean. Fenomena ini membuat hotpot naik status dari "makanan komunitas Tionghoa" jadi "pengalaman kuliner kekinian" yang dicari semua kalangan.

Adaptasi Rasa dan Kehalalan di Indonesia

Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, banyak resto hotpot yang beroperasi di sini melakukan penyesuaian, mulai dari mengganti bahan kaldu berbasis babi dengan sapi atau ayam, sampai memastikan tidak ada campuran arak atau bahan beralkohol dalam bumbu kuahnya. Beberapa resto bahkan sudah mengantongi sertifikasi halal MUI, sehingga kamu tidak perlu ragu mengajak keluarga besar untuk mencoba.

Selain itu, level pedas kuah hotpot di Indonesia juga sering disesuaikan. Kalau di Chongqing kuah pedasnya bisa bikin lidah orang Indonesia menyerah dalam tiga suapan, di sini biasanya disediakan pilihan tingkat kepedasan, dari yang ringan sampai yang benar-benar menantang.

Perbandingan Jenis Chinese Hotpot yang Populer di Indonesia

Supaya kamu lebih gampang membayangkan, berikut perbandingan beberapa gaya hotpot Tiongkok yang paling sering ditemui di resto-resto Indonesia.

Jenis Hotpot Ciri Khas Kuah Tingkat Pedas
Sichuan/Chongqing Merah, berminyak, cabai dan lada Sichuan melimpah Sangat Pedas
Kuah Bening/Herbal Jernih, ringan, sering dicampur jamur dan goji berry Tidak Pedas
Mala Pedas dengan sensasi kebas dari lada Sichuan Pedas Khas
Kuah Tomat Asam segar, cocok untuk yang tidak suka pedas Tidak Pedas
Yin Yang Pot Panci terbagi dua, kuah pedas dan bening sekaligus Bisa Dipilih

Tradisi dan Etika Makan Hotpot yang Perlu Kamu Tahu

Makan hotpot ternyata bukan cuma soal mencelupkan bahan ke kuah panas, ada beberapa kebiasaan yang diwariskan dari tradisi Tiongkok dan masih dipraktikkan sampai sekarang, termasuk di Indonesia.

  • Minum teh sebelum makan hotpot dipercaya membantu pencernaan menghadapi kuah yang berminyak dan pedas.
  • Bahan yang lebih lama matang seperti daging dan tulang biasanya dimasukkan lebih dulu, sedangkan sayuran hijau dan mi dimasukkan belakangan.
  • Menggunakan sumpit atau saringan pribadi untuk mengambil makanan dianggap lebih sopan dibanding mengaduk-aduk kuah bersama.
  • Saus celup biasanya diracik sendiri di meja, kombinasi sesame oil, bawang putih, dan kecap sesuai selera masing-masing orang.

Kesimpulan

Perjalanan chinese hotpot dari sekadar makanan penghangat tubuh di masa Dinasti Han sampai jadi hidangan istana Qing, lalu menyeberang jadi kuliner favorit keluarga Indonesia, menunjukkan satu hal: konsep makan bersama sambil memasak di meja ternyata punya daya tarik yang bertahan lintas zaman dan budaya.

Sekarang setiap kamu duduk mengelilingi panci hotpot bersama keluarga atau teman, kamu sebenarnya sedang melanjutkan tradisi yang sudah berumur ribuan tahun, hanya saja dengan versi yang lebih ramah lidah dan bahan orang Indonesia.

Nah sobat, itu dia perjalanan panjang sejarah chinese hotpot yang mungkin belum banyak kamu ketahui sebelumnya. Simpan halaman ini biar bisa kamu buka lagi kalau lagi ngobrol soal hotpot sama teman, dan jangan lupa share ke grup keluarga atau teman nongkrong kamu yang doyan hotpot juga. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!