Kata Baku Diagnosis atau Diagnosa Mana yang Benar?

Kata Baku Diagnosis atau Diagnosa
Kata Baku Diagnosis atau Diagnosa

KakaKiky - Kamu mungkin sering mendengar atau membaca istilah medis penting ini dalam berita kesehatan atau catatan dokter: diagnosis atau diagnosa? Kedua kata ini merujuk pada proses penetapan penyakit berdasarkan gejala yang dialami. Namun, jika dilihat dari kaidah Bahasa Indonesia yang benar, hanya ada satu bentuk kata yang baku. Seringkali, di rumah sakit atau di media online, kita menemukan kedua bentuk ini digunakan bergantian, yang membuat kita bingung.

Lalu, manakah penulisan yang benar dan wajib kamu gunakan untuk konteks formal dan profesional? Pada postingan ini saya akan membahas tuntas tentang mana di antara diagnosis atau diagnosa yang merupakan kata baku, alasan linguistik di baliknya, dan bagaimana kamu bisa menggunakan kata tersebut dengan tepat untuk konten kesehatan yang kredibel.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Diagnosis atau Diagnosa, Hanya Satu yang Baku Menurut KBBI

Untuk menjawab inti pertanyaanmu: kata yang baku dan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) adalah ‘diagnosis’, diakhiri dengan huruf ‘s’.

Kata diagnosa (diakhiri dengan huruf ‘a’) adalah bentuk nonbaku. Ini adalah bentuk yang sering muncul akibat kesalahan penyerapan atau analogi yang keliru dengan kata-kata lain dalam bahasa Indonesia. Meskipun populer di kalangan masyarakat umum dan terkadang digunakan dalam percakapan lisan, kata diagnosa tidak memiliki tempat dalam tulisan formal, ilmiah, atau medis yang kredibel.

Mengapa Kata Diagnosis yang Benar? Asal Usul Istilah Medis

Status baku kata diagnosis terkait erat dengan asal-usulnya sebagai kata serapan dari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris diagnosis dan bahasa Yunani diagnōsis.

Aturan Penyerapan Kata Berakhiran -sis

Dalam proses penyerapan kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, kata-kata yang berakhiran -sis biasanya dipertahankan bentuknya, terutama untuk istilah-istilah ilmiah dan medis. Hal ini dilakukan untuk menjaga konsistensi istilah di kancah internasional.

Kata-kata lain yang mengikuti pola ini dan wajib berakhiran -sis meliputi:

  • Analisis (bukan analisa)
  • Sintesis (bukan sintesa)
  • Hipotesis (bukan hipotesa)

Kata diagnosis mengikuti aturan yang sama. Bentuknya yang benar-benar baku adalah diagnosis, dan bentuk diagnosa muncul karena kesalahan analogi atau kecenderungan penutur bahasa Indonesia untuk melafalkan kata serapan dengan akhiran vokal 'a'.

Perbedaan Makna Kata Diagnosis dan Diagnostik

Selain diagnosis, seringkali muncul kata turunan lain yang juga penting, yaitu diagnostik. Memahami perbedaan kedua kata baku ini akan sangat meningkatkan kualitas tulisanmu, terutama dalam konteks medis.

Diagnosis (Kata Benda)

Diagnosis adalah kata benda (nomina) yang merujuk pada hasil atau kesimpulan dari proses pemeriksaan. Ia adalah penetapan jenis penyakit berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, atau hasil tes. Contoh: "Dokter telah memberikan diagnosis bahwa pasien menderita demam berdarah."

Diagnostik (Kata Sifat)

Diagnostik adalah kata sifat (adjektiva) yang merujuk pada tindakan atau alat yang digunakan dalam proses diagnosis. Ia menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan penyakit. Contoh: "Mereka melakukan tes laboratorium sebagai alat diagnostik untuk mengidentifikasi virus."

Baik diagnosis maupun diagnostik adalah kata-kata baku yang memiliki fungsi berbeda. Keduanya wajib digunakan secara tepat, terutama dalam tulisan yang membahas isu kesehatan dan ilmiah.

Mengapa Banyak Orang Salah Menulis Diagnosa?

Jika hanya diagnosis yang baku, mengapa kata diagnosa begitu mudah kita temukan? Ini terkait dengan kebiasaan penutur yang sering mengadaptasi kata serapan agar lebih sesuai dengan struktur vokal bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Indonesia, banyak kata serapan yang berakhiran dengan konsonan cenderung diberi imbuhan vokal 'a' agar mudah dilafalkan. Contoh yang benar:

  • Standard menjadi standar.
  • System menjadi sistem.

Sayangnya, pola penyerapan ini tidak berlaku untuk kelompok kata yang berakhiran -sis. Namun, karena kecenderungan melafalkan 'a' di akhir kata ini kuat, munculah kesalahan populer seperti diagnosa (seharusnya diagnosis), analisa (seharusnya analisis), dan hipotesa (seharusnya hipotesis).

Jika kamu adalah seorang penulis konten kesehatan, akademisi, atau jurnalis, menghindari kata diagnosa adalah sebuah keharusan untuk mempertahankan kredibilitas dan keakuratan informasi.

Kesimpulan: Hanya Diagnosis yang Baku

Setelah membaca penjelasan ini, kamu sudah tahu bahwa dari dua pilihan: diagnosis atau diagnosa, hanya "Diagnosis" yang merupakan kata baku resmi sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Kata diagnosa adalah bentuk nonbaku yang muncul karena salah kaprah dalam penyerapan istilah.

Sebagai pembaca dan penulis yang cerdas, gunakanlah kata diagnosis secara konsisten, terutama ketika membahas topik kesehatan dan ilmiah yang serius. Jika kamu ingin merujuk pada prosesnya, gunakan kata sifat diagnostik.

Nah sobat, sekarang kamu sudah tahu kan kalau penulisan yang benar itu adalah Diagnosis. Jangan lupa untuk share postingan ini ke teman-teman kamu agar mereka juga tidak ikutan salah dalam menuliskan kata-kata medis yang penting. Cukup sekian, Wassalamu’alaikum and Be Prepared!