Kata Baku Digit atau Dijit Mana yang Benar?

Kata Baku Digit atau Dijit
Kata Baku Digit atau Dijit

KakaKiky - Dalam dunia teknologi, matematika, dan keuangan, kita pasti sering mendengar istilah untuk menyebut satuan angka, yaitu digit. Namun, seringkali dalam percakapan sehari-hari atau bahkan tulisan yang terburu-buru, kita menemukan bentuk yang berbeda: dijit. Kebingungan memilih antara digit atau dijit mana yang benar adalah hal yang umum terjadi. Ini karena Bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dan proses penyerapan ini kadang menimbulkan kerancuan ejaan.

Jika kamu sedang menulis dokumen penting, laporan, atau artikel yang memerlukan kebakuan bahasa, kamu harus tahu penulisan mana yang sah secara aturan. Pada postingan ini saya akan mengulas tuntas status baku kedua kata ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bagaimana seharusnya kata asing diserap, dan penulisan mana yang wajib kamu gunakan untuk konteks formal.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Digit atau Dijit: Satu-satunya Kata yang Baku Menurut KBBI

Mari kita langsung menjawab pertanyaan utama kamu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, satu-satunya kata yang diakui sebagai bentuk baku dan benar adalah digit.

Definisi digit di KBBI adalah:

di·git /digit/ n angka Arab (0, 1, 2, ... 9); lambang bilangan.

Sementara itu, kata dijit sama sekali tidak tercantum di dalam kamus baku. Ini berarti dijit adalah bentuk tidak baku, yang kemungkinan muncul akibat pelafalan yang disesuaikan dengan lidah penutur bahasa Indonesia.

Jadi, jika kamu ingin tulisanmu benar, baik dalam konteks formal maupun semi-formal, selalu gunakan digit, bukan dijit.

Mengapa Kata ‘Digit’ Sering Salah Tulis Menjadi ‘Dijit’?

Kesalahan penulisan dari digit atau dijit sebagian besar berakar pada proses pengucapan dan adaptasi bahasa.

Adaptasi Pelafalan dari Bahasa Asing

Kata digit diserap dari bahasa Inggris, digit, yang dilafalkan dengan bunyi /dɪdʒɪt/ (dengan bunyi 'j' di tengah). Ketika kata asing diserap, penutur seringkali cenderung melafalkannya sesuai dengan bunyi yang ada di bahasa aslinya.

Di Indonesia, bunyi 'j' sering diwakili oleh huruf 'j' (misalnya pada kata jarak atau jendela). Karena kata digit dilafalkan dengan bunyi 'j', banyak orang secara keliru beranggapan bahwa penulisan yang benar haruslah dijit—yaitu penulisan yang mengikuti bunyi pelafalan.

Kaidah Penyerapan Kata Asing yang Tepat

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) atau yang sekarang dikenal sebagai Ejaan yang Disempurnakan (EYD Edisi V), ada aturan khusus untuk penyerapan kata asing yang berakhiran -git atau huruf 'g' yang berbunyi 'j'.

Dalam banyak kasus, Bahasa Indonesia lebih memilih mempertahankan ejaan aslinya untuk huruf 'g' meskipun dilafalkan 'j', asalkan huruf 'g' tersebut diikuti oleh huruf 'i'.

Contohnya:

  • Original: general (bunyi 'j') -> Baku: general
  • Original: gigantic (bunyi 'j') -> Baku: gigantik (meskipun lazim diucapkan 'jigantik', penulisan baku tetap 'gigantik')

Maka dari itu, kata digit tetap ditulis digit untuk mempertahankan bentuk asli kata serapannya, sesuai dengan kaidah EYD dan diresmikan oleh KBBI.

Pentingnya Menggunakan Penulisan Baku: Digit

Meski dalam percakapan sehari-hari kita mungkin sering mendengar dijit, penting bagi kamu untuk membiasakan diri menulis digit dalam semua konteks tertulis. Mengapa?

Meningkatkan Kredibilitas Tulisan Kamu

Dalam penulisan profesional, baik itu laporan bisnis, artikel berita, atau blog edukasi seperti ini, penggunaan bahasa baku adalah cerminan dari kredibilitas dan kehati-hatian penulis. Menggunakan digit yang baku menunjukkan bahwa kamu memahami kaidah Bahasa Indonesia yang benar dan serius dalam menyampaikan informasi.

Menghindari Ambiguitas

Penulisan baku bertujuan untuk menciptakan keseragaman. Jika setiap orang menulis sesuai dengan pelafalan masing-masing (digit ditulis dijit), maka dalam jangka panjang hal ini dapat menimbulkan ambiguitas dan kebingungan dalam komunikasi tertulis.

Kata Serapan Lain yang Sering Salah Eja Mirip Digit

Kesalahan penulisan seperti digit atau dijit juga terjadi pada kata-kata serapan lain. Dengan memahami contoh-contoh ini, kamu akan lebih peka terhadap aturan penyerapan kata asing.

  • Energi (baku) bukan enerji (tidak baku). Kata ini diserap dari energy.
  • Sistem (baku) bukan sistim (tidak baku). Kata ini diserap dari system.
  • Aksesori (baku) bukan aksesoris (tidak baku). Kata ini diserap dari accessory.

Dalam semua contoh di atas, huruf 'g' pada kata digit atau 'y' pada kata system tetap dipertahankan bentuknya, meskipun ada perbedaan antara ejaan dan pelafalan lisan. Ini adalah prinsip konservatif dalam penyerapan kata asing.

Kesimpulan: Lupakan Dijit, Gunakan Digit Selalu

Kesimpulannya, penulisan yang benar dan baku adalah digit. Kata dijit adalah bentuk tidak baku yang muncul akibat penyesuaian pelafalan lisan. Jika kamu bertujuan menciptakan konten yang berkualitas tinggi, informatif, dan sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang berlaku, tidak ada keraguan lagi: gunakan digit.

Dengan menggunakan kata baku, kamu tidak hanya meningkatkan kualitas tulisanmu, tetapi juga turut melestarikan kaidah bahasa yang benar. Yuk, mulai hari ini, saat membahas angka atau kode, pastikan kamu selalu menulis digit.

Apakah kamu punya keraguan lain tentang kata baku? Tinggalkan komentarmu di bawah!