Kata Baku Cokelat atau Coklat Mana yang Benar?

Kata Baku Cokelat atau Coklat
Kata Baku Cokelat atau Coklat

KakaKiky - Siapa yang tidak suka dengan kelezatan dan aroma khas dari makanan berbahan dasar biji kakao ini? Mulai dari minuman hangat, kue, hingga batangan manis, makanan ini selalu disukai. Namun, di tengah kenikmatannya, pernahkah kamu bingung saat menuliskan namanya? Lebih tepat menggunakan cokelat atau coklat? Kebingungan ini sangat umum. Kita sering menemukan kedua bentuk kata ini digunakan bergantian di label produk, menu kafe, hingga media massa.

Lalu, manakah penulisan yang benar dan sesuai kaidah Bahasa Indonesia? Tenang saja, kita akan membahasnya tuntas! Jawaban pastinya sangat sederhana: kata baku yang tepat adalah cokelat. Pada postingan ini saya akan membahas mengapa penulisan cokelat yang baku, asal-usul kata tersebut, dan bagaimana kamu bisa menggunakan kata tersebut dengan tepat untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Cokelat atau Coklat, Mana Bentuk Kata yang Baku dan Standar?

Untuk langsung menjawab keraguanmu, penulisan yang baku dan benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) adalah ‘cokelat’, dengan huruf 'e' di tengahnya.

Kata coklat dianggap sebagai bentuk tidak baku atau nonformal. Sama seperti kasus pada banyak kata lain, bentuk tidak baku ini muncul karena adanya efisiensi dalam pelafalan lisan. Dalam percakapan sehari-hari, penutur bahasa Indonesia sering menghilangkan vokal 'e' yang tidak bertekanan, sehingga co-ke-lat menjadi co-klat. Namun, secara tertulis, huruf 'e' itu mutlak harus ada.

Jika kamu membuka KBBI, kamu hanya akan menemukan entri utama cokelat. Ini adalah bukti kuat bahwa cokelat adalah standar yang wajib digunakan dalam konteks formal, akademis, dan profesional.

Menguak Asal-Usul Kata Cokelat (Etimologi)

Untuk memahami mengapa cokelat baku, kita perlu melihat sejarah serapan katanya. Kata ini diserap dari bahasa asing, yaitu bahasa Belanda.

Dari Chocolate Menjadi Cokelat

Kata cokelat berasal dari bahasa Spanyol chocolate. Kata ini kemudian diserap oleh bahasa Belanda menjadi chocolade. Ketika masuk dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia, kata tersebut mengalami penyesuaian ejaan agar lebih sesuai dengan kaidah pelafalan kita, sehingga menjadi cokelat.

Dalam proses penyerapan, vokal 'e' pada suku kata kedua (-ke-) dipertahankan karena memang merupakan bagian dari kata aslinya (chocolade). Bentuk ini pun dicatat sebagai bentuk serapan resmi oleh lembaga bahasa.

Kesalahan Penyerapan Fonetik pada Coklat

Munculnya coklat adalah contoh umum dari kesalahan fonetik yang terjadi ketika penutur mencoba menyederhanakan pelafalan sebuah kata serapan. Mereka menghilangkan vokal 'e' karena tidak bertekanan, tetapi secara tertulis, tindakan ini menyalahi bentuk serapan yang sudah dibakukan. Dalam bahasa lisan, proses ini disebut sinkope (penghilangan bunyi di tengah kata).

Fungsi dan Makna Kata Cokelat yang Baku

Kata cokelat tidak hanya merujuk pada makanan manis saja. Dalam KBBI, kata ini memiliki setidaknya tiga makna baku yang berbeda:

1. Makanan atau Minuman (Theobroma cacao)

Makna paling umum, merujuk pada olahan biji kakao yang rasanya manis dan pahit. Contoh: "Saya suka makan cokelat hitam."

2. Warna Cokelat

Kata ini juga baku untuk merujuk pada warna campuran merah, kuning, dan hitam (warna tanah). Contoh: "Dia mengenakan jaket berwarna cokelat muda."

3. Pohon Kakao

Secara terbatas, cokelat juga dapat merujuk pada pohonnya, meskipun kata kakao lebih umum digunakan dalam konteks pertanian. Contoh: "Pohon cokelat banyak tumbuh di daerah tropis."

Dalam ketiga konteks di atas, bentuk yang baku dan harus kamu gunakan adalah cokelat.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Cokelat (Baku) dan Menghindari Coklat (Nonbaku)?

Disiplin dalam berbahasa mencerminkan profesionalitas kamu sebagai penulis.

Wajib Menggunakan Cokelat

Penggunaan kata cokelat adalah mutlak dalam semua jenis tulisan formal dan profesional yang memerlukan standar baku bahasa Indonesia, termasuk:

  • Penulisan di media massa, laporan, dan dokumen resmi.
  • Materi edukasi, buku pelajaran, skripsi, dan jurnal ilmiah.
  • Label produk makanan dan minuman (untuk menunjukkan kualitas dan kepatuhan terhadap kaidah bahasa).

Dengan menggunakan cokelat, kamu membangun kredibilitas dan memberikan informasi yang akurat kepada pembaca.

Kapan Boleh Menggunakan Coklat?

Kata coklat hanya dapat digunakan dalam konteks yang sangat terbatas dan nonformal, seperti:

  • Dialog atau kutipan dalam karya fiksi (novel, cerpen) untuk menciptakan suasana yang santai atau untuk meniru ucapan sehari-hari.
  • Judul konten media sosial atau caption yang sengaja menggunakan bahasa populer untuk menarik interaksi santai.

Intinya, jika kamu ingin tulisanmu dinilai berkualitas tinggi dan memiliki otoritas, pilihlah cokelat secara konsisten.

Kesimpulan: Cokelat Adalah Standar Kebakuan

Setelah membaca artikel ini, kamu sudah tahu bahwa penulisan yang benar dan baku sesuai kaidah Bahasa Indonesia adalah "Cokelat", bukan "coklat". Meskipun coklat sangat sering diucapkan dan ditulis dalam konteks nonformal, keberadaan huruf 'e' adalah ciri yang membedakan bentuk baku dari bentuk percakapan.

Sebagai penulis yang menghargai ketepatan bahasa, gunakan cokelat dalam setiap tulisanmu. Dengan begitu, kamu tidak hanya berbagi informasi, tetapi juga ikut melestarikan standar bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Nah sobat, sekarang kamu sudah tahu kan kalau penulisan yang benar itu adalah Cokelat bukan Coklat. Jangan lupa untuk share postingan ini ke teman-teman kamu agar mereka juga tidak ikutan salah dalam menuliskan kata. Cukup sekian, Wassalamu’alaikum and Be Prepared!