Ateis atau Atheis? Ini Ejaan Baku yang Benar Menurut KBBI

Ateis atau atheis mana kata baku yang benar
Ateis atau atheis mana kata baku yang benar

KakaKiky - Salah satu kata yang sering bikin bingung saat menulis adalah pilihan antara ateisme atau atheisme. Keduanya sering muncul di artikel berita, esai akademik, sampai diskusi media sosial — tapi mana yang sebenarnya benar menurut kaidah bahasa Indonesia? Di sini saya akan jawab tuntas, lengkap dengan konteks penggunaannya dan contoh kalimat yang bisa langsung kamu jadikan acuan.

{getToc} $title={Daftar Isi}

Ateisme atau Atheisme, Mana yang Benar Menurut KBBI?

Jawaban singkatnya: yang benar adalah ateisme, bukan atheisme. Bentuk atheisme adalah penulisan yang tidak baku dalam bahasa Indonesia karena masih mempertahankan gugus huruf "th" dari bahasa asalnya (bahasa Inggris: atheism), padahal sistem ejaan bahasa Indonesia tidak mengenal gugus konsonan "th" seperti itu.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang terdaftar dan diakui secara resmi adalah ateisme — ditulis dengan huruf "t" tunggal tanpa "h" setelahnya. Ini bukan sekadar selera atau kebiasaan menulis, melainkan kaidah resmi yang sudah ditetapkan melalui proses penyerapan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

Sama seperti kata kata baku esai yang sering salah ditulis sebagai "essay" atau "esei", kata ateisme juga kerap keliru karena pengaruh ejaan bahasa Inggris yang begitu kuat di kehidupan sehari-hari kita.

Mengapa Bukan "Atheisme"?

Dalam pedoman penyerapan kata bahasa asing ke bahasa Indonesia, gugus "th" yang berasal dari bahasa Yunani atau Latin — yang dalam bahasa Inggris dipertahankan sebagai "th" — disesuaikan menjadi "t" saja dalam bahasa Indonesia. Ini adalah pola yang konsisten dan berlaku untuk banyak kata serapan lainnya.

Perhatikan pola yang sama pada kata-kata berikut ini:

  • Aesthetic (Inggris) → estetika (Indonesia)
  • Atheism (Inggris) → ateisme (Indonesia)
  • Atheist (Inggris) → ateis (Indonesia)
  • Theory (Inggris) → teori (Indonesia)
  • Theology (Inggris) → teologi (Indonesia)
  • Thesis (Inggris) → tesis (Indonesia)
  • Theme (Inggris) → tema (Indonesia)

Polanya sangat jelas: "th" di bahasa Inggris konsisten menjadi "t" di bahasa Indonesia. Jadi kalau kamu sudah hafal pola ini, kamu tidak akan bingung lagi saat bertemu kata-kata serapan serupa di kemudian hari.

Arti Ateisme Menurut KBBI dan Penggunaannya

Menurut KBBI, ateisme didefinisikan sebagai paham atau keyakinan yang menolak keberadaan Tuhan atau dewa-dewa. Kata ini masuk dalam kategori nomina (kata benda) dan merupakan kata serapan dari bahasa Inggris atheism, yang sendirinya berakar dari bahasa Yunani: a- (tidak/tanpa) + theos (Tuhan).

Ada dua kata turunan yang juga penting kamu ketahui dalam kelompok kata ini:

Kata Baku Kata Tidak Baku Kelas Kata Arti Singkat
ateisme atheisme Nomina Paham yang menolak keberadaan Tuhan
ateis atheis / athiest Nomina / Adjektiva Orang yang menganut ateisme; tidak percaya Tuhan
ateistis atheistis Adjektiva Bersifat seperti atau berkaitan dengan ateisme

Ateisme, Agnostisisme, dan Sekularisme — Jangan Sampai Tertukar

Dalam diskusi dan penulisan akademik, tiga istilah ini sering dipakai secara bergantian padahal maknanya berbeda. Kalau kamu sering menulis esai, artikel opini, atau tugas kuliah tentang filsafat dan sosiologi agama, penting untuk memahami perbedaannya agar penggunaan katamu tepat sasaran:

  • Ateisme — Paham yang secara aktif menyatakan ketidakpercayaan pada keberadaan Tuhan atau dewa manapun.
  • Agnostisisme (agnosticism) — Pandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan maupun disangkal secara pasti; posisi "tidak tahu".
  • Sekularisme (secularism) — Prinsip pemisahan urusan agama dari urusan negara atau kehidupan publik; tidak selalu berkaitan dengan keyakinan personal tentang Tuhan.

Ketiga kata tersebut semuanya sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bentuk bakunya mengikuti pola yang sama — gugus "th" dihilangkan atau disesuaikan menjadi "t".

Contoh Kalimat yang Menggunakan Kata Ateisme dengan Benar

Mengetahui ejaan yang benar saja tidak cukup — kamu juga perlu tahu cara menggunakannya dalam kalimat yang tepat. Berikut beberapa contoh kalimat dengan kata ateisme, ateis, dan ateistis yang bisa kamu jadikan referensi:

Contoh Kalimat dengan "Ateisme"

  1. Debat tentang ateisme dan teisme sudah berlangsung sejak era filsafat Yunani kuno hingga hari ini.
  2. Ateisme bukan sekadar ketidakpercayaan pada agama tertentu, melainkan penolakan terhadap konsep ketuhanan secara keseluruhan.
  3. Makalah mahasiswa itu mengkaji hubungan antara modernisasi dan meningkatnya ateisme di berbagai negara Eropa Barat.
  4. Dalam konteks hukum Indonesia, ateisme adalah topik yang sensitif karena berkaitan dengan sila pertama Pancasila.

Contoh Kalimat dengan "Ateis"

  1. Filsuf Perancis itu dikenal sebagai seorang ateis yang konsisten dalam pandangan filosofisnya.
  2. Bukan berarti seseorang yang ateis tidak memiliki nilai moral atau etika dalam hidupnya.
  3. Survei tersebut menunjukkan bahwa jumlah responden yang mengidentifikasi diri sebagai ateis meningkat di kalangan generasi muda perkotaan.

Contoh Kalimat dengan "Ateistis"

  1. Pandangan ateistis dalam novel tersebut dikemas secara halus melalui dialog antar tokoh.
  2. Kritik ateistis terhadap institusi agama bukan hal baru dalam sejarah filsafat Barat.

Kenapa Kesalahan Penulisan "Atheisme" Sangat Umum Terjadi?

Ada alasan konkret mengapa kata atheisme (salah) jauh lebih sering muncul di internet dibanding ateisme (benar). Ini bukan semata-mata karena orang malas cek KBBI, tapi ada beberapa faktor yang perlu dipahami:

  1. Dominasi konten berbahasa Inggris. Mayoritas diskusi tentang topik ini di internet menggunakan kata atheism. Ketika seseorang menerjemahkan atau mengadaptasinya ke bahasa Indonesia, ejaan Inggris terbawa begitu saja tanpa penyesuaian.
  2. Pengaruh media yang tidak melalui editor bahasa. Blog, forum, dan media sosial tidak melalui proses editorial ketat seperti penerbitan buku. Kesalahan ejaan menyebar dan akhirnya terasa "benar" karena sering dilihat.
  3. Ketidaktahuan tentang pola penyerapan kata. Banyak penutur bahasa Indonesia yang tidak menyadari bahwa ada sistem aturan yang konsisten dalam proses penyerapan kata asing. Ini bisa kamu pelajari lebih lanjut melalui kamus bahasa baku yang memuat daftar lengkap kata serapan resmi.
  4. Autocorrect dan algoritma mesin pencari. Mesin pencari sering menampilkan hasil dengan kedua ejaan karena mempertimbangkan volume pencarian, bukan kebenaran ejaan. Ini membuat pengguna mengira keduanya sama-sama valid.

Insight Penting: Frekuensi Bukan Ukuran Kebenaran

Satu hal yang perlu kamu ingat: kata yang sering dipakai belum tentu kata yang benar. Dalam dunia tulis-menulis formal — termasuk tugas sekolah, skripsi, artikel jurnal, surat resmi, hingga berita — standar yang berlaku adalah KBBI dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI/EYD V). Popularitas di media sosial bukan acuannya.

Kalau kamu sering menulis artikel, esai, atau konten digital dalam bahasa Indonesia, membiasakan diri menggunakan ejaan baku sejak awal jauh lebih mudah daripada harus mengoreksi kebiasaan yang sudah terlanjur mengakar.

Kesimpulan: Ateisme, Bukan Atheisme

Untuk meringkas semuanya: penulisan yang benar dan baku menurut KBBI adalah ateisme, bukan atheisme. Kata "th" dalam bahasa Inggris secara konsisten diserap menjadi "t" dalam bahasa Indonesia — pola ini berlaku untuk ateisme, teori, teologi, tesis, dan puluhan kata serapan lainnya.

Kelompok kata turunannya pun mengikuti aturan yang sama: ateis (bukan atheis) dan ateistis (bukan atheistis). Simpan artikel ini sebagai referensi cepat setiap kali kamu ragu dengan ejaan kata-kata serapan serupa.

Kalau artikel ini membantu, share ke teman-teman yang suka nulis atau sedang belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan kalau kamu ingin terus update soal ejaan dan kata baku lainnya, bookmark halaman ini ya — saya akan terus menambahkan referensi yang bermanfaat. Be Prepared!